The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Anjlok ke Level Rp 14.504/USD di Awal Dagang

Rupiah - beritagar.idRupiah - beritagar.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 65,2 poin atau 0,45 persen ke level Rp 14.504 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (20/12). Kemarin, Rabu (19/12), Garuda berakhir terapresiasi 62 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp 14.439 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melemah walaupun Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan acuan sebesar seperempat poin. Meski demikian, naiknya The Fed ini berhasil mengurangi beberapa kerugian tajam USD di sesi perdagangan sebelumnya.

The Fed akhirnya menaikkan tingkat Federal Fund Rate (FFR) di kisaran 2,25 persen hingga 2,5 persen, lebih tinggi dari kisaran 2-2,25 persen yang diumumkan pada November 2018 lalu. Keputusan The Fed tersebut membantu dolar AS untuk mencoba merangkak naik meskipun masih menetap di posisi yang lemah.

Sebelumnya sempat berlangsung aksi jual yang dramatis di saham dan penurunan imbal hasil obligasi AS bertenor jangka panjang, lantaran adanya kekhawatiran pasar terkait adanya potensi perlambatan ekonomi. Akan tetapi kekhawatiran itu sedikit mereda lantaran The Fed mengurangi perkiraan angka kenaikan suku bunga pada 2019 dari 3 kali menjadi hanya 2 kali. Kemudian tahun 2020 hanya akan ada 1 kenaikan suku bunga.

Lewat pernyataannya, Komite Pasar Terbuka Federal menganggap risiko terhadap prospek ekonomi secara kasar seimbang, namun menekankan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan ekonomi dan keuangan global, serta menilai implikasinya terhadap ekonomi di masa mendatang.

Sementara itu, dari dalam negeri rupiah kemarin berhasil karena adanya sejumlah kebijakan (BI) yang dinilai mampu mengatasi pasar keuangan dalam negeri. Menurut Reny Eka Putri, Ekonom Bank Mandiri, BI telah menyuntikkan likuiditas hingga Rp 2,8 triliun menjelang Natal dan Tahun Baru. Kebijakan Domestic Non Delivery Forward (DNDF) pun turut menyumbang sentimen positif untuk rupiah.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra menambahkan, penurunan minyak yang cukup signifikan beberapa hari lalu juga cukup mempengaruhi. “ minyak mentah turun bisa menurunkan beban impor dalam neraca dagang Indonesia,” ungkap Putu, seperti dilansir Kontan.

Loading...