The Fed Isyaratkan Pelonggaran Moneter, Rupiah Lanjutkan Penguatan di Awal Dagang

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta – Pada awal pagi hari ini, Kamis (10/1), kurs dibuka menguat tajam sebesar 77,5 poin atau 0,55 persen ke level Rp 14.047,5 per AS. Sebelumnya, Rabu (9/1), nilai tukar Garuda ditutup terapresiasi 23 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp 14.125 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama berakhir melemah. Pada penutupan perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,72 persen menjadi 95,2150, jatuh ke level terendah baru sejak bulan Oktober 2018 lalu, usai diumumkannya risalah terbaru pertemuan kebijakan Federal Reserve yang mengisyaratkan berkurangnya pengetatan moneter.

Di samping itu, para pelaku pasar pun memiliki ekspektasi tinggi terhadap hasil perundingan dagang antara Amerika Serikat dengan China yang baru saja berakhir. “Komite dapat bersabar tentang kebijakan lebih lanjut,” demikian bunyi pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal () dalam risalah pertemuan 18-19 Desember 2018, yang dirilis pada Rabu (9/1), seperti dilansir Xinhua melalui Antara.

Pernyataan itu diumumkan ketika FOMC meyakini bahwa volatilitas yang terjadi belum lama ini di pasar keuangan dan meningkatnya kekhawatiran terkait global telah membuat “tingkat dan waktu yang tepat dari kebijakan mendatang yang kurang jelas dari sebelumnya.” Dalam rangka mempertimbangkan status quo pasar keungan, komite menekankan bahwa pengetatan tambahan dalam jumlah yang relatif terbatas mungkin akan jadi lebih tepat.

Langkah-langkah ini mengisyaratkan jika The Fed kemungkinan bakal melonggarkan batasannya pada uang yang mengalir di pasar, yang berakibat pada sedikit berkurangnya komparatif greenback. perdagangan global yang stabil pun menawarkan bantuan bagi investor aset-aset berisiko yang menguntungkan, serta memungkinkan investor mengurangi kepemilikan mata uang safe haven layaknya greenback.

Sementara itu, menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim rupiah berhasil menguat berkat faktor eksternal seperti diperpanjangnya waktu negosiasi perdagangan antara AS dan China di Beijing. Hal itu pula yang sekaligus menimbulkan optimisme terkait adanya keputusan yang lebih jelas seputar penyelesaian perang dagang.

“Terlebih lagi, ada pernyataan Presiden AS Donald Trump melalui yang menyebut negosiasi perang dagang berjalan baik,” ujar ekonom Bank Central Asia David Sumual, seperti dilansir Kontan. Terlebih lantaran faktor ketidakpastian penutupan operasional pemerintahan AS atau government shutdown juga sudah mengakibatkan posisi dolar AS makin terjepit.

Loading...