The Fed Dovish, Suku Bunga Bank Sentral Asia Diprediksi Masih Naik di 2019

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia - www.viva.co.idPerry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia - www.viva.co.id

JAKARTA – Nada dovish yang disampaikan untuk perkirakan kebijakan mereka pada tahun 2019 mendatang agaknya memberikan sedikit ruang bernapas bagi bank-bank sentral Asia. Meski demikian, sejumlah ekonom memperkirakan masih akan terjadi kenaikan di negara-negara berkembang karena ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi .

Seperti dilansir dari Nikkei, kebijakan moneter The Fed telah menjadi penyebab utama penurunan nilai tukar negara berkembang. Nah, proyeksi baru The Fed untuk dua kenaikan suku bunga pada tahun depan, berkurang satu dari perkiraan di bulan September, bisa menjadi penolong bagi otoritas moneter Asia yang telah menghabiskan tahun ini untuk menopang kurs mereka.

Bank Indonesia misalnya, telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo sebanyak enam kali dengan total 175 basis poin, imbas kejatuhan kurs ke posisi terendah dalam 20 tahun pada bulan Oktober. Namun, pada pertemuan kebijakan yang berakhir Kamis (20/12) kemarin, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan mereka di 6%, sehari setelah rapat kebijakan The Fed.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers mengatakan bahwa perkiraan untuk kenaikan suku bunga The Fed pada tahun 2019, yang telah berubah dari tiga kali menjadi dua kali, otomatis juga memengaruhi kebijakan mereka. Komentar Perry ini menunjukkan laju kenaikan suku bunga yang lebih moderat di tahun mendatang.

Pengetatan moneter yang lebih lambat juga diharapkan untuk Filipina, setelah bank sentral mereka menaikkan suku bunganya sebanyak lima kali sepanjang tahun ini. Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) terpaksa mengakhiri kebijakan hampir empat tahun karena kurs peso telah merosot ke posisi terendah dalam 13 tahun terhadap greenback pada bulan September lalu, dan inflasi mencapai level tertinggi menembus kisaran target bank sentral 2-4%.

BSP sendiri sudah mempertahankan suku bunga stabil di 4,75% dalam pertemuan terakhir 2018 pekan lalu, karena indeks konsumen mereda untuk pertama kalinya dalam setahun di bulan November. Bank sentral memperkirakan inflasi akan turun kembali ke kisaran target pada 2019. “Jika Fed mengambil sikap yang lebih dovish tahun depan, BSP dapat memangkas suku bunga kebijakan pada kuartal kedua 2019,” tutur ekonom di ING Bank ManilaIndia, Nicholas Antonio Mapa.

Meski demikian, ekonom tidak mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga di negara berkembang di Asia, terutama karena masih adanya ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi global. Perang dagang antara AS dan China, yang membuat investor meninggalkan aset berkembang yang berisiko, kemungkinan akan berlanjut hingga tahun depan, yang mungkin bakal memberikan tekanan pada mata uang .

“Kami memperkirakan kekhawatiran investor tentang prospek ekonomi global menjadi lebih buruk pada tahun 2019, karena hubungan ekonomi AS dan China terputus,” kata Capital Economics dalam sebuah catatan pekan lalu. “Kami menduga bahwa penghindaran aset berisiko akan terus berlanjut, menyebabkan sebagian besar mata uang emerging market melemah terhadap AS, bahkan ketika imbal hasil Treasury merosot lebih jauh.”

Loading...