The Fed Dovish, Rupiah Naik di Akhir Pekan

Rupiah - beritakompas.comRupiah - beritakompas.com

JAKARTA – mampu berbalik menguat pada Jumat (11/1) sore setelah sinyal dovish kembali dikeluarkan Federal Reserve, yang mengirim indeks AS menuju teritori merah. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda menguat 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.048 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.076 per dolar AS, menguat 17 poin atau 0,12% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.093 per dolar AS. Kurs ditetapkan sebesar Rp14.146 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di posisi Rp14.006 per dolar AS, atau memiliki selisih Rp140.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah pada akhir pekan, di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat memutuskan untuk melakukan jeda pada kebijakan pengetatan moneter jika ekonomi melambat tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,201 poin atau 0,21% menuju level 95,338 pada pukul 12.25 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Gubernur , Jerome Powel, pada hari Kamis (10/1) kemarin menegaskan bahwa bank sentral memiliki kemampuan untuk bersabar dalam kebijakan moneter mengingat inflasi tetap stabil. Wakil Gubernur , Richard Clarida, juga mengeluarkan pernyataan bernada dovish, memperkuat kesediaan bank untuk tetap bersabar tentang kenaikan .

“Pasar sebagian besar telah yakin bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Untuk mendapatkan dolar AS yang lebih lemah, pasar sekarang harus mengharapkan penurunan suku bunga, tetapi saya tidak melihat itu terjadi,” terang ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Mata uang berisiko seperti dolar Australia dan dolar cenderung melihat kenaikan lebih lanjut merujuk kesepakatan perdagangan AS-China.”

Indeks dolar AS sendiri telah turun sekitar 2,2% sejak pertengahan Desember kemarin, di tengah ekspektasi bahwa perlambatan pertumbuhan, baik di AS maupun global, akan membatasi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini. Sebelumnya, sempat perkasa, naik 4,3% karena The Fed menaikkan suku empat kali berkat ekonomi domestik yang kuat, pengangguran yang turun, dan meningkatnya upah.

Loading...