The Fed Dovish, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – mampu menutup perdagangan Kamis (25/2) sore di area hijau ketika greenback masih berkutat di posisi terendah karena sinyal lanjutan The Fed memicu taruhan reflasi. Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir menguat tipis 2,5 poin atau 0,02% ke level Rp14.082,5 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.104 per dolar AS, terkoreksi 15 poin atau 0,1% dari sebelumnya di level Rp14.089 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang tidak kuasa melawan greenback, termasuk baht Thailand dan ringgit Malaysia.

Menurut analisis CNBC Indonesia, tekanan terhadap rupiah sekali lagi datang dari kenaikan yield obligasi AS. Pagi tadi, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 19,1 basis point ke level 1,4081%, sekaligus posisi tertinggi sejak Februari 2020 atau sebelum COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi. Kenaikan yield Treasury tersebut tentunya membuat obligasi (Surat Berharga Negara/SBN) kurang menarik, sebab selisihnya semakin menyempit.

Dari pasar , indeks dolar AS sebagai aset safe haven sebenarnya masih merana di dekat posisi terendah tiga tahun versus mata uang berisiko pada hari Kamis, karena sinyal dovish lanjutan dari Federal Reserve memicu taruhan reflasi. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,178 poin atau 0,20% ke level 89,989 pada pukul 11.26 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, pada Rabu (24/2) waktu setempat, Gubernur The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan menyesuaikan kebijakan sampai ekonomi jelas membaik, dan akan melihat melalui lonjakan inflasi jangka pendek. Ucapan kepada House of Representatives Committee on Financial Services tersebut mencerminkan kesaksiannya di depan Senat sehari sebelumnya.

“Powell memperjelas bahwa perbaikan dalam prospek ekonomi sejauh ini tidak akan memicu Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter,” kata ahli strategi valuta asing National Bank Rodrigo Cattrill, dalam sebuah catatan. “Pukulan tidak akan pergi ke mana-mana dalam waktu dekat dan latar belakang kebijakan seharusnya tetap mendukung aset berisiko untuk beberapa waktu.”

Kondisi yang mudah, janji stimulus fiskal, dan percepatan peluncuran vaksin COVID-19 telah mendorong uang ke dalam apa yang kemudian dikenal sebagai ‘perdagangan reflasi’, merujuk pada taruhan pada peningkatan ekonomi dan harga. Mata uang terkait komoditas mendapatkan keuntungan dari kenaikan perdagangan global, sedangkan investor juga mendukung kemajuan Inggris dalam pemulihan dari pandemi.

Loading...