The Fed Bersikap Dovish, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Kamis (18/3) sore ketika Federal Reserve cenderung mengambil sikap dovish, meningkatkan minat terhadap aset-aset berisiko. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.54 WIB, Garuda berakhir menguat 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.410 per dolar AS.

Sementara itu, yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.412 per dolar AS, menguat 47 poin atau 0,32% dari sebelumnya di level 14.459 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang sanggup mengungguli greenback, termasuk rupiah, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia.

“Pelemahan indeks dolar AS dan yield US Treasury 10 tahun kemungkinan akan mendorong penguatan rupiah,” tutur analis Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, pagi tadi, seperti dilansir dari Antara. “Keputusan The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga tingkat rendah dan pembelian surat utang di tengah kenaikan pertumbuhan , mungkin akan meredakan lonjakan yield US Treasury.”

Dalam rapat kebijakan yang berakhir Kamis pagi WIB, Federal Reserve memang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 0-0,25%. Bank sentral AS tersebut juga mempertahankan program pembelian surat berharga di keuangan (quantitative easing) dengan nilai mencapai 120 miliar dolar AS per bulan.

Isyarat Federal Reserve untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan, setidaknya hingga tahun 2023 mendatang, bahkan ketika melihat pemulihan ekonomi di AS, membuat greenback cenderung mengambil posisi defensif pada Kamis ini. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,068 poin atau 0,07% ke level 91,510 pada pukul 11.02 WIB.

Seperti diwartakan The Business Times, investor ramai-ramai ‘membuang’ dolar AS dan bergegas ke mata uang yang lebih sensitif terhadap risiko karena Gubernur The Fed, Jerome Powell, setiap pada pandangan dovish-nya. Hal tersebut mengurangi spekulasi prospek ekonomi yang lebih kuat, yang dapat mendorong bank sentral untuk menarik kembali stimulus mereka.

“Itu memang Jay (panggilan Jerome Powell) yang biasa,” kata Manajer Cabang Tokyo State Street Bank, Bart Wakabayashi. “Pasar telah berpikir bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga, mungkin sekali pada tahun depan dan beberapa kali lagi pada tahun 2023. Namun, akan tetap ada pertanyaan mengenai apakah The Fed dapat mengendalikan inflasi.”

Loading...