The Fed Dovish, Baht Thailand Terkuat se-Asia di Semester Awal 2019

Baht Thailand - blog.continentalcurrency.caBaht Thailand - blog.continentalcurrency.ca

BANGKOK – Sebagian besar utama dan indeks di kawasan Asia bergerak menguat pada paruh awal tahun 2019 ini seiring dengan nada dovish , meskipun terjadi konflik perdagangan antara AS dan China yang berimbas pada pasar . Baht Thailand memimpin penguatan, yang menjalar pada ASEAN lainnya, seperti peso Filipina dan .

Diberitakan Nikkei, baht mengalami apresiasi lebih dari 5% terhadap dolar AS pada semester pertama tahun ini, didukung terutama oleh kebijakan moneter yang berlawanan antara bank sentral Thailand dan . Bank of Thailand diketahui menaikkan suku bunga acuan mereka pada Desember 2018 dan tetap hawkish hingga awal tahun ini. Sebaliknya, spekulasi penurunan suku bunga The Fed telah menguat sehingga berkontribusi pada peningkatan aset di Asia.

“Meskipun Thailand tidak ada dalam daftar pengawasan mata uang AS, tetapi negara itu masih menghadapi risiko di masa depan,” tutur analis senior di MUFG Bank Jepang, Teppei Ino. “Ini mengesampingkan intervensi mata uang eksplisit untuk Thailand sebagai langkah untuk menghentikan apresiasi baht, dan mengambil keuntungan dari itu.”

Undang-undang tahun 1988 memang mewajibkan Departemen Keuangan AS untuk melapor ke Kongres setiap enam bulan tentang apakah negara-negara memanipulasi mata uang mereka untuk mendapatkan keuntungan perdagangan. Ditempatkan pada daftar pantauan membuat suatu negara selangkah lebih dekat untuk dianggap sebagai manipulator mata uang, suatu penunjukan yang dapat mengakibatkan sanksi perdagangan dari Negeri Paman Sam.

Peso Filipina, rupiah, dan rupee India juga menguat di pertengahan pertama tahun ini. Pemilu yang sebagian besar bebas masalah di masing-masing negara membantu apresiasi mata uang. Di sisi lain, won Korea Selatan harus melemah lebih dari 3% terhadap greenback karena perlambatan ekonomi negara itu. Perang dagang AS-China telah mengguncang industri semikonduktor Korea Selatan, yang meliputi pemasok peralatan telekomunikasi China, Huawei Technologies.

Sementara itu, di bursa saham, indeks benchmark Shanghai naik sekitar 20% selama enam bulan pertama. Indeks menikmati kuartal terbaik sejak 2014 dari Januari hingga Maret, dibantu oleh langkah-langkah stimulus ekonomi Beijing, termasuk pemotongan 2 triliun yuan (300 miliar dolar AS) pajak dan . Namun, kenaikan dengan cepat kehilangan kekuatan, ketika ketegangan perdagangan antara AS dan China kembali tinggi.

“Memulai kembali perundingan dagang tidak berarti bahwa AS dan China akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat,” tulis Oxford Economics dalam sebuah catatan. “Negosiasi akan terus sulit, mengingat sikap keras yang kemungkinan akan diambil kedua pihak. Ini bisa menempatkan pasar saham China dalam situasi genting.”

Benchmark Kuala Lumpur Composite Index turun 1% selama paruh pertama tahun ini, menjadi salah satu pasar utama berkinerja terburuk di wilayah Asia. Ekspor dan output pabrik yang lemah di Negeri Jiran, bersama dengan rasio utang pemerintah yang relatif tinggi terhadap domestik bruto dan kebijakan fiskal yang ketat, melemahkan kepercayaan investor terhadap saham Malaysia.

Di antara saham di daftar Nikkei Asia300, yang melacak perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar di Asia di luar Jepang, produsen minuman asal Thailand, Ichitan, melakukan yang terbaik dengan kenaikan lebih dari 120%. Produsen teh hijau dan minuman herbal meraup untung karena kinerja operasi yang lebih baik, didukung oleh pemotongan biaya pemasaran dan penjualan yang lebih tinggi.

Namun, penurunan signifikan terlihat di beberapa saham Asia300 India. Operator seluler Vodafone Idea, yang sebelumnya dikenal sebagai Idea Cellular, sedikit terganggu pada awal tahun ini dengan masalah kualitas layanan, di samping penurunan tajam dalam jumlah pelanggan. Sahamnya telah jatuh lebih dari 45% sepanjang tahun berjalan, sedangkan saham perusahaan media, Zee Entertainment, turun lebih dari 27%.

Perang perdagangan yang sedang berlangsung dan ketegangan di Timur Tengah juga telah menggerakkan pasar komoditas. Harga minyak naik paling tinggi di antara komoditas yang dilacak oleh Nikkei. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 28% menjadi 59 dolar AS per barel dari 2 Januari di tengah ketegangan di Timur Tengah. Sementara pengurangan produksi oleh OPEC terus berlanjut, serangan kapal tanker baru-baru ini di dekat Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak.

Loading...