The Fed Bersikeras Perketat Kebijakan Moneter, Rupiah Kembali Terkoreksi di Pembukaan

mata uang rupiah - www.cnbcindonesia.commata uang rupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta mata uang Garuda mengawali pagi hari ini, Kamis (18/10), dengan pelemahan sebesar 0,25 persen atau 37,5 poin ke posisi Rp 15.187,5 per . Kemarin, Rabu (17/10), berakhir terapresiasi 51 poin atau 0,33 persen ke level Rp 15.150 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,55 persen menjadi 95,5746 lantaran para pelaku sedang mempertimbangkan risalah pertemuan pada September yang baru saja dirilis.

Risalah pertemuan yang dilaporkan pada sore hari menunjukkan bahwa pihak The Fed tetap yakin untuk memperketat moneter supaya ekonomi Amerika Serikat tetap stabil. “Para peserta umumnya mengantisipasi bahwa peningkatan bertahap lebih lanjut dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund (federal funds rate/FFR) kemungkinan besar akan konsisten dengan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi mendekati dua persen dalam jangka menengah,” demikian bunyi risalah The Fed, seperti dilansir Antara.

Pada sektor ekonomi, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan pada Rabu (17/10), data housing starts (rumah yang baru dibangun) yang dimiliki secara pribadi AS pada September 2018 lalu berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 1.201.000 unit. Perolehan tersebut 5,3 persen lebih rendah dari prediksi Agustus yang direvisi sebesar 1.268.000 unit, namun 3,7 persen di atas capaian September 2017 sebesar 1.158.000 unit.

Sementara itu, rupiah kemarin berhasil menguat karena memperoleh dukungan dari sentimen eksternal. Pasalnya AS Donald Trump mengkritik kenaikan suku bunga acuan The Fed yang mengakibatkan kurs dolar AS turun. Menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim, USD juga terkoreksi karena dampak dari perang dagang.

Di samping itu, China merilis data inflasi naik 2,5 persen secara year to year (YoY) dari 2,3 persen. “Tapi yang perlu diwaspadai berikutnya adalah data domestik bruto (PDB) China, yang kemungkinan besar dapat memberikan sentimen negatif kepada dollar,” papar Ibrahim. “Pemerintah juga ingin membawa rupiah ke bawah Rp 15.000,” sambungnya.

Loading...