Terus Tertekan, Rupiah Rebound Ditutup Menguat Tipis

Rupiah - ekbis.co.idRupiah - ekbis.co.id

JAKARTA – Tertekan nyaris sepanjang , akhirnya mampu menutup Rabu (14/4) di area hijau, saat greenback cenderung melemah ketika laporan terbaru menunjukkan AS naik melebihi perkiraan. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat tipis 2,5 poin atau 0,02% ke level Rp14.602,5 per .

Sejumlah mata uang di kawasan juga mampu mengungguli greenback. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar setelah menguat 0,32%, disusul dolar Singapura yang terapresiasi 0,19%. Yen Jepang dan baht Thailand menyusul dengan kenaikan masing-masing 0,18%, diikuti ringgit Malaysia yang terkerek 0,13%.

“Ada tiga yang membuat rupiah mengalami tren pelemahan, dalam beberapa waktu terakhir dan untuk ke depannya,” ujar kepala ekonom BCA, David Sumual, dilansir dari Kontan. “Tren pelemahan beberapa hari ini mungkin terkait dengan kebutuhan impor. Selain itu, di kuartal dua ada banyak yang bagi dividen, sehingga melakukan repatriasi, juga karena outflow dari asing di obligasi negara.”

Sementara itu, dari pasar global, dolar AS berdiri di dekat posisi terendah tiga minggu terhadap euro dan yen pada hari Rabu, ketika kenaikan indeks AS yang melebihi perkiraan tidak serta-merta memicu kekhawatiran yang lebih luas tentang percepatan inflasi dan perubahan komitmen Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,092 poin atau 0,10% ke level 91,760 pada pukul 10.57 WIB dan diperdagangkan pada 109,03 terhadap yen.

Seperti diwartakan Reuters, penurunan greenback terjadi karena indeks harga konsumen AS melonjak 0,6% pada Maret 2021 dibandingkan bulan sebelumnya, kenaikan terbesar sejak Agustus 2012, dan naik 2,6% dari tahun sebelumnya. CPI inti, yang tidak termasuk makanan dan energi yang mudah menguap, juga sedikit lebih kuat dari yang diharapkan, dengan peningkatan sebesar 1,6%.

“Inflasi diperkirakan akan meningkat pada kuartal April-Juni. Meskipun pembacaan terakhir sedikit lebih kuat dari yang diharapkan, itu tidak terjadi secara tiba-tiba,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Namun, pada akhirnya akan ada stimulus fiskal skala besar lainnya, yang akan mendukung dolar AS.”

Loading...