Tertolong Kenaikan Peringkat Utang S&P, Rupiah Dibuka Naik Tipis

Rupiah - starberita.comRupiah -

Jakarta Garuda dibuka menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp 14.279 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (14/6). Kemarin, Kamis (13/6), kurs berakhir terdepresiasi 39 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp 14.280 per USD.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau relatif stabil. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik tipis sebesar 0,01 persen menjadi 97,0096 lantaran para pelaku masih enggan mengambil posisi besar sebelum diadakannya pertemuan Federal Reserve pekan depan dan KTT G20 di Jepang akhir bulan ini.

Tingkat yang rendah dan melemahnya di tengah-tengah perang perdagangan antara Amerika Serikat dengan China telah memunculkan ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan acuannya. Hal ini pula yang sekaligus membawa dolar AS turun dari level tertinggi 2 tahun yang berhasil dicapai pada Mei.

Tetapi, investor enggan terlalu bearish pada USD tanpa disertai kepastian lebih lanjut bahwa penurunan suku bunga memang benar-benar positif. Dilansir Antara, The Fed tidak banyak diperkirakan akan memotong suku bunga pada pertemuan yang diselenggarakan tanggal 18-19 Juni 2019 mendatang, meskipun investor akan memperhatikan sinyal baru bahwa pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada Juli 2019.

Sementara itu, Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengungkapkan bahwa gerak rupiah masih loyo akibat tekanan dari eksternal dan internal. Apalagi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kembali menaikkan tarif produk impor asal China telah mengakibatkan konflik dagang antara kedua belah pihak makin memanas. Selain itu, kekhawatiran Brexit juga telah menekan laju mata uang emerging market.

Kemudian Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, rilis data cadangan devisa yang anjlok USD 4 miliar pada Mei pun turut menahan gerak rupiah di pasar spot. Rupiah juga melemah karena para pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data tenaga kerja AS. Namun beruntung karena tekanan yang dialami rupiah tidak terlalu dalam. “Karena tertahan efek kenaikan peringkat utang Indonesia dari S&P,” jelas Josua, seperti dilansir Kontan.

Loading...