Tertekan Sentimen Eksternal, Rupiah Belum Mampu Bangkit di Awal Dagang

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

Jakarta – Pada awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (24/7), Garuda dibuka melemah sebesar 8 poin atau 0,06 persen ke level Rp 13.993 per . Sebelumnya, Selasa (23/7), kurs berakhir terdepresiasi 42 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp 13.985 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks naik 0,47 persen menjadi 97,716. Hampir mencapai 97,718, level tertinggi dalam sekitar 5 pekan. Penguatan USD ini terjadi usai Presiden Donald Trump dan anggota parlemen AS mencapai kesepakatan 2 tahun mengangkat batas atau pagi pinjaman guna menutupi pengeluaran.

Seperti dilansir Antara, Departemen Keuangan AS saat ini bisa meningkatkan pinjaman jangka pendek untuk membangun kembali jumlah uang tunai yang telah menurun sekitar USD 195 miliar dari USD 423 miliar pada akhir April, ujar analis Morgan Stanley. Menurutnya, peningkatan pinjaman AS akan mengurangi uang dalam perbankan, sehingga dapat menopang laju dolar AS. “Kelebihan cadangan akan menurun, mendukung pinjaman (dolar),” ucap ahli strategi Morgan Stanley, Hans Redeker, Gek Teng Khoo, dan Sheena Shah.

Dolar AS juga memperoleh dukungan usai Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan perkiraan pertumbuhan AS pada 2019 sambil menurunkan prospek pertumbuhan globalnya. Selain itu, laporan sempat menyatakan bahwa negosiator AS akan bertolak ke China pada Senin (29/7) depan untuk membahas tentang perdagangan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, katalis utama pelemahan rupiah berasal dari faktor eksternal. Salah satunya adalah pidato Gubernur Federal Reserve Jerome Powell di Kongres AS yang cenderung positif. Selanjutnya pernyataan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer yang merasa rencana China membeli produk asal AS kurang signifikan. “Ini membuat indeks dollar AS menguat,” ujarnya, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, data PMI Manufaktur China bulan Februari juga kembali melambat dan ada di angka 49,2. Yang keempat adalah karena tak adanya kesepakatan antara AS dengan Korea Utara. Padahal pasar telah menantikan kesepakatan terkait denuklirisasi.

Loading...