Tertekan Optimisme Kenaikan Suku Bunga AS, Rupiah Anjlok di Penutupan

harus terpuruk di zona merah pada penutupan Kamis (222/2) ini setelah risalah meeting mengisyaratkan optimisme kenaikan lebih lanjut. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan dengan pelemahan sebesar 67 poin atau 0,49% ke level Rp13.685 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melemah 3 poin atau 0,02% di posisi Rp13.618 per dolar AS pada akhir dagang Rabu (21/2) kemarin. Mata uang NKRI kembali terseok dengan terdepresiasi 25 poin atau 0,18% ke level Rp13.643 per dolar AS ketika membuka transaksi tadi pagi. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak kuasa beranjak dari teritori merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Dari pasar , indeks dolar AS berseri-seri pada perdagangan Kamis, setelah risalah FOMC meeting menunjukkan optimisme yang lebih besar atas kebutuhan untuk tetap menaikkan suku bunga acuan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,085 poin atau 0,09% ke level 90,085 pada pukul 11.11 WIB, setelah sebelumnya ditutup naik 0,284 poin atau 0,32% di posisi 90,000.

Reuters memberitakan, risalah rapat kebijakan Federal Reserve pada 30-31 Januari 2018 yang diumumkan Kamis pagi WIB menunjukkan optimisme terhadap inflasi, sekaligus mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga tiga kali pada tahun ini. Indeks dolar AS yang awalnya tergelincir ke posisi yang lebih rendah setelah rilis tersebut berangsur-angsur pulih.

“Pelaku pasar mungkin menafsirkan The Fed minutes karena membiarkan kemungkinan bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga sebanyak empat kali tahun ini,” tutur ekonom Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) di Singapura, Hirofumi Suzuki. “Kenaikan suku bunga pada bulan Maret telah banyak diantisipasi, dan tampaknya ada peningkatan pandangan mengenai prospek .”

Selain kenaikan suku bunga, risalah tersebut juga menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan telah meningkatkan proyeksi mereka untuk prospek ekonomi sejak Desember. Sebagian besar anggota melihat prospek jangka pendek yang agak kuat dan beberapa menilai risiko kenaikan yang meningkat, dengan mengatakan bahwa kebijakan pajak Donald Trump akan meningkatkan ekonomi lebih dari perkiraan sebelumnya.

Loading...