Tertekan Ketidakpastian Global, Rupiah Berakhir Drop 37 Poin

Ketidakpastian yang menyelimuti pasar global membuat pergerakan Garuda sulit diprediksi. Setelah kemarin mampu signifikan, pada hari ini (14/9) spot justru berbalik tersungkur. Menurut data Index pukul 15.59 WIB, harus melemah 37 poin atau 0,28% ke level Rp13.205 per AS di tutup dagang.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,02% ke level Rp13.170 per dolar AS. Jeda siang, spot semakin anjlok 71 poin atau 0,54% ke posisi Rp13.239 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.25 WIB, mata uang Garuda belum mampu bangkit dan terbenam 45 poin atau 0,34% ke level Rp13.213 per dolar AS.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, pelemahan rupiah didorong oleh masih tingginya ketidakpastian global. “Meski peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September 2016 terus mengecil, namun indeks dolar AS berhasil bangkit merespon turunnya mentah dunia,” katanya.

Pada perdagangan Selasa (13/9), harga minyak jenis WTI kontrak Oktober memang ditutup anjlok 1,39 poin atau 3% ke 44,90 dolar AS per barel. Sementara, minyak Brent kontrak November juga berakhir drop 1,22 poin atau 2,52% menjadi 47,10 dolar AS per barel. Namun, Rabu siang, harga minyak terpantau rebound menyusul angka kenaikan stok minyak mentah AS yang jauh lebih kecil dari prediksi.

Di samping itu, Bank Sentral Eropa (European Central Bank atau ECB) yang tidak menambah stimulus pada pekan lalu mengecewakan yang tampak dari imbal hasil global yang terus naik. Penguatan indeks dolar AS pun diramal bisa bertahan di sepanjang minggu ini hingga FOMC meeting pekan depan.

Sementara dari dalam negeri, perpanjangan periode pengumpulan tax amnesty mengisyaratkan keraguan pemerintah sekaligus menjadi sentimen negatif bagi rupiah. “Meningkatnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo menjadi satu-satunya berita positif,” tutup Rangga.

Loading...