Tertekan Isu Perang Dagang, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - kabarbisnis.comRupiah - kabarbisnis.com

JAKARTA – harus kembali terdampar di teritori merah pada penutupan perdagangan Selasa (12/2), ketika kekhawatiran mengenai perang dagang membuat daya tarik aset safe haven meningkat. Menurut Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 34 poin atau 0,25% ke level Rp14.068 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.088 per dolar AS, terdepresiasi 93 poin atau 0,66% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.995 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,34% dialami rupiah, disusul yen Jepang yang turun 0,21%.

Dari , indeks dolar AS bertahan mendekati level tertinggi tahun 2019 pada hari Selasa, karena ketegangan perdagangan AS-China dan kekhawatiran pertumbuhan mendukung daya tarik aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau  bergerak menguat 0,001 poin atau 0,01% menuju level 97,058 pada pukul 12.45 WIB, setelah kemarin sudah berakhir naik 0,42 poin atau 0,43%.

Seperti diberitakan Reuters, fokus investor saat ini tertuju pada pembicaraan perdagangan tingkat tinggi di China, dengan Washington diperkirakan akan terus menekan Beijing agar melakukan reformasi struktural untuk melindungi kekayaan intelektual -perusahaan AS. Ini untuk mengakhiri kebijakan yang bertujuan memaksa transfer teknologi ke China, serta menurunkan subsidi industri.

Pada minggu ini, dua negara ekonomi terbesar di dunia mencoba untuk menuntaskan kesepakatan sebelum batas waktu 1 Maret mendatang. Jika tidak ada kesepakatan, AS untuk China senilai 200 miliar dolar AS dijadwalkan meningkat dari 10% menjadi 25%. Perselisihan AS dan China sudah mengguncang pasar keuangan global selama setahun terakhir, mengganggu aktivitas pabrik dan pertumbuhan global.

“Dolar AS mendapat manfaat dari kegelisahan investor di sekitar pembicaraan perdagangan,” kata ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Di luar daya tarik safe haven, greenback masih merupakan mata uang dengan imbal hasil tertinggi di negara maju dan dengan semua bank sentral utama melakukan dovish, dolar AS tampaknya relatif menarik.”

Loading...