Tertekan Hasil Rapat The Fed, Rupiah Masih Bertengger di Zona Merah

Rupiah - radarsukabumi.comRupiah - radarsukabumi.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Jumat (24/8) dengan pelemahan sebesar 14,5 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp 14.652 per AS. Kemarin, Kamis (23/8), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 64 poin atau 0,44 persen ke level Rp 14.638 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau mengalami kenaikan. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks terpantau naik secara substansial sebesar 0,55 persen menjadi 95,6715 pada siang waktu setempat. Menguatnya ini disebabkan oleh kemungkinan Federal Reserve yang hendak menaikkan acuannya walaupun terdapat tekanan .

Presiden Fed Dallas, Robert Kaplan mengungkapkan bahwa Federal Reserve akan tetap memberikan keputusan terkait suku bunga, terlepas dari pertimbangan politik dan pengaruh politik yang sedang terjadi. Kaplan menyampaikan keyakinannya lewat kontinuitas dari sikapnya.

Di sisi lain Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum lama ini menyatakan ketidaksenangannya atas kenaikan suku bunga yang ditetapkan secara independen. sendiri dikabarkan tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan 31 Juli hingga 1 Agustus, berdasarkan notulen rapat yang dilaporkan pada Rabu lalu. Komite Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan untuk kembali mengadakan pertemuan pada 25-26 September untuk kemungkinan adanya kenaikan suku bunga sebanyak 1 kali lagi.

Dari dalam negeri, mata uang rupiah kembali terkoreksi lantaran tertekan oleh faktor eksternal. Menurut Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, risalah rapat FOMC yang baru saja dirilis mengisyaratkan The Fed akan menaikkan suku bunga sesuai kondisi AS terkini. “Ini membuat AS kembali bullish,” ujar Enrico, seperti dilansir Kontan.

Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim menambahkan bahwa dalam perdagangan hari ini ia yakin rupiah dapat menguat lantaran adanya intervensi dari pihak pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Oleh sebab itu, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 14.590 hingga Rp 14.640 per dolar AS.

Loading...