Tertekan Aksi Jual Emerging Market, Rupiah Makin Tak Berdaya di Hadapan USD

rupiah - kumparan.comrupiah - kumparan.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (4/10), dengan pelemahan sebesar 45 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp 15.120 per AS. Sebelumnya, Rabu (3/10), kurs Garuda ditutup terdepresiasi 32 poin atau 0,22 persen menjadi Rp 15.075 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama dilaporkan menguat ke level tertinggi dalam 6 pekan. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,26 persen menjadi 95,7619 pada pukul 15.00 waktu setempat (19.00 GMT) lantaran didukung oleh pernyataan Ketua , Jerome Powell terkait kondisi Amerika Serikat yang positif dan rencana untuk terus menaikkan acuannya.

Langkah hawkish ini telah memberi suntikan positif pada dolar AS setelah Rabu (26/9) lalu menaikkan suku bunga sesuai dengan perkiraan dan menyatakan akan kembali menaikkan suku bunganya pada bulan Desember 2018, serta 3 kali lagi pada tahun berikutnya, dan 1 kali kenaikan tahun 2020 mendatang.

Berdasarkan laporan dari ADP National Employment Report, pengusaha-pengusaha swasta AS telah menambahkan 230.000 pekerjaan pada bulan September 2018, melebihi perkiraan pasar di angka 185.000 pekerjaan. Lalu kegiatan sektor jasa telah meningkat ke level tertinggi 21 tahun pada September.

“The Fed masih sangat berkomitmen untuk jalur bertahap ketika harus menaikkan suku bunga. Salah satu alasan mengapa kita berpikir mengapa dolar telah begitu ditawar dalam beberapa bulan terakhir, karena ekonomi AS berkinerja cukup baik, sedangkan kami telah melihat perlambatan mendasar dalam hal data yang keluar dari zona euro dan Jepang serta ekonomi besar lainnya,” ujar Kepala strategi valuta asing Amerika Utara di CIBC Capital Markets Bipan Rai seperti dilansir Antara.

Menurut Analis Trade Point Future Andri Hardianto, menguatnya USD telah menyebabkan kepercayaan pasar terhadap aset di Eropa dan pasar negara berkembang belum sepenuhnya pulih. “Pelaku pasar akhirnya melakukan aksi jual untuk menghindari emerging market,” ucap Andri seperti dilansir Kontan.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menambahkan, keputusan pemerintah Italia yang tak mau menekan defisit anggaran telah mengakibatkan euro melemah dan berdampak pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Apabila Italia bersedia mempertimbangkan permintaan untuk mengurangi defisit anggarannya, maka rupiah berpotensi untuk rebound, bersamaan dengan menguatnya euro.

Loading...