Tersedia Beragam Bentuk, Besar Biaya Produksi AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) Bervariasi

biaya, produksi, amdk, air, minum, dalam, kemasan, desa, masyarakat, skala, besar, kecil, perhutani, pemasaran, mesin, pengadaan, variabel, tetap, ukuran, botol, galon, gelasIlustrasi: Air minum dalam kemasan (investireoggi.it)

minum dalam kemasan atau (AMDK) merupakan suatu peluang bisnis yang baru. dalam kemasan merupakan yang diolah dengan menggunakan teknologi tertentu, kemudian dikemas dalam beberapa bentuk, antara lain botol 330 ml, botol 600 ml, botol 1500 ml, gelas 240 ml, galon 19 liter maupun ukuran kemasan lainnya.

Bisnis pabrik air minum dalam kemasan (amdk) banyak ditawarkan oleh air minum baik yang dari skala kecil hingga skala yang besar. Di dalam bisnis tersebut, terdapat penghitungan biaya , yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel, di mana biaya diperoleh dari nilai air.

Sebagai contoh, di dalam analisis biaya produksi air minum dalam kemasan dan madu di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, terdapat nominal biaya produksi sebelum adanya nilai ekonomi air sebesar Rp 6 miliar lebih. Nilai ekonomi air didapatkan sebesar Rp 692/liter. Dengan demikian, biaya produksi setelah adanya nilai ekonomi air adalah Rp 10 miliar lebih. Besarnya biaya produksi tersebut tentu bervariasi antar satu dengan yang lain.

Membuka bisnis air minum dalam kemasan, tidak hanya bisa dilakukan oleh perorangan, bekerja sama dengan orang lain, tetapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat. Misalnya saja yang terjadi di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Mereka berencana akan mengelola usaha air minum dalam kemasan.

Setelah melalui proses selama beberapa waktu, Mata Air Sumber Ssongo (AAS-9) dari Desa Jenggolo, kabarnya siap dilaunching menjadi air minum dalam kemasan. Hasil tersebut sesuai dengan hasil musyawarah pihak pemerintahan desa bersama Ketua BPD setempat.

Kepala Desa Jenggolo, Lidyanto, mengatakan bahwa pelaksanaan launching dilakukan pada September tahun lalu. “Ke depan kami berharap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program Pemberdayaan Manusia (PPM) serta mengoptimalkan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di desa kami dengan melalui Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dari mata air Sumber Songo,” ungkap Lisdyanto.

Mengenai rencana ke depan, dirinya mengatakan bahwa targetnya, pihaknya bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes) setempat. Untuk proses komersial air minum tersebut sudah melalui tiga tahapan. Pertama, pemasangan saluran pipanisasi. Kedua, pengadaan mesin produksi, dan terakhir yaitu membangun tempat produksi.

Menyinggung biaya yang dikeluarkan, Lidyanto mengatakan, “Adapun untuk besarnya biaya yang dikucurkan untuk membangun kawasan tersebut sebesar Rp 1 miliar. Selain bersumber dari Dana Desa (DD) juga swadaya masyarakat,” bebernya.

Disinggung mengenai pemasaran, pihaknya akan menggunakan sales marketing. “Untuk pendapatan satu bulan dalam taraf transisi kami targetkan antara Rp 10 juta hingga Rp 25 juta. Dalam taraf uji coba nanti, tidak kami perjual-belikan, namun kami minta kesadaran warga untuk ganti biaya produksi dulu,” tuturnya.

Loading...