Terpengaruh Sentimen Eksternal & Internal, Rupiah Dibuka di Zona Merah

Rupiah - inapex.co.idRupiah - inapex.co.id

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 6,5 poin atau 0,05 persen ke level Rp 14.134 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (17/1). Kemarin, Rabu (16/1), Garuda ditutup terdepresiasi 38 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp 14.128 per USD.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat, terutama terhadap euro. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,02 persen menjadi 96,0590 lantaran mengkhawatirkan pertumbuhan zona euro.

Pada Selasa (15/1), di hadapan Parlemen Eropa Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menyatakan bahwa perkembangan ekonomi belakangan ini lebih lemah dari perkiraan dan perlu stimulus moneter lebih lanjut. Sementara itu, pertumbuhan negara Jerman yang menjadi perekonomian terbesar di Eropa juga dinyatakan melambat.

Berdasarkan data dari Biro Statistik Federal (Statistisches Bundesamt) pada Selasa (15/1), pertumbuhan ekonomi pada 2018 hanya mencapai 1,5 persen, pencapaian terendah sejak 5 tahun terakhir. Padahal tahun 2017 lalu pertumbuhan ekonomi masih menyentuh angka 2,2 persen. Tingginya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi di Jerman serta komentar dovish dari Presiden ECB Mario Draghi telah mengakibatkan mata uang bersama euro melemah terhadap dolar AS.

Sementara itu, menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, rupiah mengalami pelemahan akibat sentimen eksternal dan internal, yaitu ditolaknya proposal yang diajukan Perdana Menteri Inggris Theresa May oleh Uni Eropa dan defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,10 miliar pada Desember 2018. “Tetapi angka defisit ini sebenarnya masih lebih baik bila dibandingkan dengan bulan November 2018. Ini yang menyebabkan rupiah menjadi fluktuatif,” ucap Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Pada November 2018 defisit neraca perdagangan ada di angka USD 2,05 miliar, lebih tinggi dari Desember 2018. Sedangkan sepanjang tahun 2018 lalu telah mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD 8,57 miliar.

Di tengah fluktuasi tersebut, nilai tukar rupiah dapat sedikit tertolong karena adanya stimulus dari China yang kabarnya bakal melakukan pemangkasan guna mengatasi perlambatan ekonomi. Akan tetapi pada perdagangan hari ini Ibrahim memprediksi rupiah akan kembali bergerak melemah. “Untuk sepekan ke depan, kemungkinan rupiah masih akan mengalami tahapan konsolidasi,” sambung Analis Trade Point Futures Deddy Yusuf.

Loading...