Teror Turki Khawatirkan Pasar, Rupiah Melemah di Penutupan

Situasi global yang masih belum kondusif, termasuk teror di Turki, menimbulkan kekhawatiran sehingga mereka beralih ke aset safe haven seperti AS. Hal ini yang kemudian melemahkan pergerakan sehingga menurut Index pukul 15.59 WIB, spot harus 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.459 per AS pada Rabu (21/12) ini.

Rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan dibuka turun tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.440 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.453 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.48 WIB, spot masih tertahan di zona merah usai anjlok 28 poin atau 0,21% ke posisi Rp13.466 per dolar AS.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengatakan bahwa rupiah masih akan tertekan pada sesi dagang hari ini terkena imbas dari situasi global. Dolar AS menguat hingga dini hari tadi meski hanya tipis. Penguatan dolar AS tersebut diikuti kenaikan imbal hasil US Treasury yang sebelumnya sempat turun.

“Prospek rupiah dalam jangka pendek masih akan tertekan situasi global,” papar Rangga. “Namun, konsistensi kenaikan komoditas minyak mentah memanfaatkan momentum pemangkasan produksi anggota OPEC dapat menjaga fluktuasi rupiah untuk bergerak stabil.”

Sementara itu, Research and Analyst Monex Investindo Futures, Faisyal menambahkan bahwa serangkaian insiden, mulai penabrakan truk di Jerman hingga penembakan duta besar Rusia di Turki, berpeluang menekan pasar. Ini membuat pelaku pasar beralih ke aset aman alias safe haven, termasuk dolar AS. “Hal tersebut yang memicu pelemahan rupiah,” tutur Faisyal.

Senada, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memaparkan bahwa utang luar negeri Indonesia hingga akhir Oktober 6,7% atau melambat dibandingkan September di angka 7,8% bisa menjadi sentimen bagi rupiah. “Namun, serangan teror di Turki memang menimbulkan kekhawatiran pasar,” jelasnya.

Loading...