Termasuk Prodi di Fakultas Kedokteran, Biaya Kuliah Kebidanan Universitas Brawijaya Malang Mulai Rp 500.000

universitas, brawijaya, UB, program, studi, prodi, kebidanan, pendidikan, dokter, gigi, hewan, calon, mahasiswa, baru, 2018, uang, kuliah, tunggal, I, UKT, Rp 500.000, S2, S3, orang, tahun, fakultas, kedokteran, FK, mabaHalaman depan gedung Rektorat Universitas Brawijaya Malang (Instagram: @helmi_nugye)

Brawijaya (UB) memiliki beberapa yang menerima baru setiap tahunnya. Salah satunya adalah Fakultas (FK). Tidak hanya menerima (maba) untuk program studi (prodi) Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter Hewan, tetapi juga Kebidanan, Farmasi, Gizi, dan lainnya.

Untuk kuliahnya, berdasarkan website resminya (selma.ub.ac.id), akan tertera rincian biayanya di tahun 2017 kemarin. Universitas Brawijaya memberlakukan Uang Kuliah Tunggal (UKT) berdasarkan kelompok dan jalur penerimaannya.

Misalnya, untuk Fakultas Kedokteran Program Studi Kebidanan Jalur SNMPTN, UKT-nya mulai dari Rp 500.000 (Kelompok I), Rp 1.000.000 (Kelompok II), Rp 4.665.000 (Kelompok III), Rp 7.220.000 (Kelompok IV), dan seterusnya. Anda bisa mengunjungi wesbite resmi UB untuk informasi lengkapnya.

Secara umum, Fakultas Kedokteran dinilai merupakan fakultas yang tinggi peminat. “Dari tahun ke tahun, peminat ke Fakultas Kedokteran meningkat,” jelas Dr dr Sri Andarini MKes, Dekan Fakultas Kedokteran UB

Oleh karena itu, menurutnya, calon mahasiswa harus jeli memilih prodi dan mempersiapkan diri. “Tapi rata-rata di semua persaingan masuk pendidikan kedokteran tinggi,” tambah Dr dr Wisnu Barlianto MSi SpA (K), Wakil Dekan I FK UB.

Pada penerimaan mahasiswa baru 2018 ini, FK UB hanya menerima sekitar 224 maba agar bisa menjaga kualitas. Kemudian, Ilmu Keperawatan sebanyak 100 maba, prodi Farmasi sebanyak 120 orang, Kebidanan sebanyak 110 orang, dan Ilmu Gizi sebanyak 110 orang. Dengan total sekitar 800 orang termasuk maba S2 dan S3. Di UB, FK memiliki prodi paling banyak yaitu 32 prodi, termasuk pendidikan dokter spesialis sebanyak 17 prodi.

Sementara itu, di kampus lainnya, seperti Universitas Muhammadiyah (UMM), FK juga masih menjadi salah satu pilihan unggulan bagi calon mahasiswa. Menurut Dekan FK UMM, Dr. dr. Meddy Setiawan S.p PD menyampaikan bahwa tingginya minat mahasiswa baru untuk masuk di FK dapat dilihat dari rasio. Sehingga para calon mahasiswa harus bersaing ketat agar dapat diterima di FK.

“Tahun ini kami masih menunggu keputusan dari Kemenristek Dikti untuk kuota yang akan diterima di FK. Namun jika mengacu pendaftar yang diterima tahun lalu sekitar 150 mahasiswa baru yang diterima,” ujar Meddy Setiawan

Ia menjelaskan, kuota penerimaan mahasiswa baru harus melihat parameter terlebih dahulu. Beberapa parameter yang dilihat diantaranya status akreditasi, kerja sama dengan RS Pendidikan yang telah terakreditasi dan lulusan uji kompetensi dasar (UKD) mahasiswa. “Tahun ini kami tidak membuka jalur prestasi, itu karena kami lebih mengutamakan tes seleksi untuk mencari calon mahasiswa kedokteran yang memiliki kualitas,” ungkapnya.

Selain UMM, FK UIN Malang tahun ini akan menerima sebanyak 50 mahasiswa untuk Pendidikan Dokter dan Farmasi sebanyak 95 mahasiswa. “Jumlah kuota yang kami terima masih sama dengan tahun sebelumnya, itu karena keterbatasan SDM dan sarana prasarana. Untuk pendaftaran terdiri dari dua jalur SNMPTN dan SBMPTN,” terang Kepala Biro Administrasi, Akademik, dan Kemahasiswaan UIN Malang, Drs H Achmad Heru AH M.Si.

Dekan Fakultas Kedokteran Unisma, dr. HRM. Hardadi Airlangga, Sp. PD juga mengatakan bahwa untuk masuk dalam FK Unisma tidak mudah, pasalnya pihaknya tidak mematok pendaftar sesuai dengan kuota yang diberikan oleh Menristek Dikti. Itu terbukti pada tahun lalu, FK Unisma hanya menerima 90 mahasiswa baru dari jumlah peminat sebanyak 1.500.

“Kami tidak pernah menerima penuh kuota yang ditetapkan Dikti, karena kami melihat dari kemampuan calon pendaftar berdasar hasil seleksi. Di mana beberapa seleksi tersebut meliputi tiga tahap yaitu, psikotes dan akademik di tahap pertama, fisik dan kejiwaan di tahap dua dan tahap terakhir wawancara,” papar Hardadi.

Loading...