Terletak di Kaki Gunung Semeru, Poncokusumo Malang Punya Banyak Pilihan Tempat Wisata

Tempat, wisata, di, Poncokusumo, Malang, kota, kabupaten, desa, wanawisata, Coban Bidadari, Gunungsari Sunset, kecamatan, oleh-oleh, aneka, keripik, konsep, Hutan, Pinus, Ledok Ombo, camping ground, pengunjung, kuliner, alam, produksi, holtikultura, apel, jeruk, GSS, gunung, BromoLansekap Poncokusumo yang menawan tertangkap kamera (instagram: @hiroghani)

Selain terkenal sebagai kota pendidikan, juga berjuluk sebagai Kota Bunga dan Kota . Terdapat alam mulai dari dan pantai, buatan taman bermain ataupun taman bunga, hingga kuliner yang memiliki ragam pilihan menu dari kaki lima hingga bintang lima. Keanekaragaman kuliner di Kota Malang ini semakin membuat penduduk asli dan pendatang menjadi enggan untuk keluar dari Kota Malang.

Sedikit menjauh dari situasi perkotaan, ada satu daerah di Malang yang memiliki daya tarik tersendiri berkat wisata alamnya yang cukup memanjakan pengunjung. Poncokusumo, merupakan nama satu desa sekaligus nama kecamatan di Malang. Sejak 27 Mei 2001 Poncokusumo yang memiliki luas sekitar 686,23 hektare diresmikan sebagai salah satu desa wisata di Malang. Terletak di kaki Gunung Semeru atau tepatnya di sebelah selatan perbatasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Desa Wisata Poncokusumo memiliki banyak potensi yang patut untuk digali.

Desa Poncokusumo bisa disebut sebagai desa yang kaya akan produksi hortikultura seperti bawang, tomat, kentang, kol, dan buah apel. Seperti halnya daerah lain di Kabupaten Malang, wisata petik apel menjadi salah satu wisata andalan di Desa Poncokusumo. apel yang dibudidayakan cukup beragam mulai dari Apel Manalagi, Apel Ana, Apel Roombeauty, dan lainnya.

Selain apel, buah jeruk juga dibudidayakan di Poncokusumo. Jika dulu Poncokusumo identik sebagai daerah penghasil apel, kini kawasan ini juga menjadi sentra jeruk. Sejumlah alasan mendasari pemilihan jeruk sebagai salah satu komoditas utama di kawasan ini, salah satunya kualitas panen yang mumpuni.

Selain Coban Bidadari, di Poncokusumo juga terkenal dengan wisata camping ground bernama Hutan Pinus Ledok Ombo Camping Ground. Hutan pinus ini memang sudah disulap menjadi camping ground dengan fasilitas yang sudah cukup lengkap sehingga cukup nyaman bagi pengunjung. “Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan hijau dan asri serta udara yang sejuk dari rumah pohon, atau sambil ngobrol santai di kafe. Pengunjung juga bisa menikmati suasana hutan pinus sambil tiduran di atas hammock,” ujar seorang traveller.

Baru-baru ini, Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Malang baru saja me-launching wana wisata baru di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo yang diberi nama Gunungsari Sunset (GSS). Wisata baru ini memang sengaja dibuka untuk disinggahi wisatawan, terutama para pendaki yang ingin naik ke Gunung Bromo. Melalui perjalanan sekitar dua jam dari Kota Malang, Anda sudah bisa menikmati keindahan pemandangan khas pegunungan di Desa Gubugklakah.

Seperti namanya, tempat wisata baru ini menjadi salah satu yang direkomendasikan untuk menikmati matahari tenggelam pada ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut. Namun, Anda tak melulu disuguhi pemandangan khas senja tiba. Selain menikmati hangatnya sinar mentari, mereka yang kebanyakan muda-mudi memanfaatkan keindahan pegunungan itu sebagai latar belakang untuk berfoto selfie. Bahkan, Anda harus rela antre jika berkunjung di akhir pekan.

Mengusung konsep home and resto, pengelola Gunungsari Sunset juga menyediakan fasilitas penunjang yang cukup lengkap. Saat ini sudah tersedia lima rumah kayu. Sebelum menuju Gunung Bromo, Anda bisa mencoba bermalam di rumah kayu tersebut. Selain itu sudah ada kafe yang lengkap dengan menu dan yang ditawarkan. Beberapa varian kuliner juga bakal mengobati lapar dan dahaga setelah Anda menjelajahi kawasan wanawisata ini.

Sebelum meninggalkan Poncokusumo, pengunjung bisa terlebih dahulu belanja buah tangan khas desa ini langsung dari tempat produksinya. Ada aneka keripik dari beragam olahan, seperti keripik pisang, keripik talas, keripik singkong, dan sebagainya. Aneka keripik ini dikemas dalam berbagai kemasan, harganya murah mulai Rp500, Rp2.000, hingga Rp10 ribuan.

Loading...