Terkoreksi 3 Poin, Data Inflasi Tak Mampu Topang Rupiah

Jakarta – Berdasarkan dari Index, kurs rupiah dibuka 3 poin atau 0,02 persen pada posisi Rp 13.327 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (2/8). Kemarin, Selasa (1/8) rupiah berakhir terapresiasi 0,01 persen atau 1 poin ke level Rp 13.324 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.312 hingga Rp 13.333 per AS.

Menurut Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, rilis inflasi Juli 2017 sebesar 0,22 persen yang dilaporkan kemarin rupanya tak cukup kuat untuk menopang gerak rupiah di spot exchange. Bahkan meskipun gerak dolar Amerika Serikat kini sedang melemah juga tak mampu menjadi dorongan untuk rupiah mempertahankan posisinya di zona hijau.

“Menguatnya yen Jepang, yuan Cina, dan euro Eropa malah menjadi alternatif pelaku pasar untuk di pasar valas dibandingkan rupiah. Akibatnya, rupiah yang turun membuat lajunya cenderung tertahan,” kata Reza, Rabu (2/8), seperti dilansir Tempo.

Lebih lanjut Reza mengatakan jika penguatan beberapa belum mampu diserap oleh rupiah. Garuda diperkirakan akan bergerak melemah tipis pada perdagangan hari ini. “Diharapkan kondisi ini dapat membaik di mana penguatan dapat terjadi dengan memanfaatkan penguatan sejumlah terhadap dolar AS,” sambung Reza.

Selama beberapa hari belakangan, Reza menuturkan jika pergerakan rupiah mulai menguat. Akan tetapi sayang penguatan rupiah harus kembali diuji ketahanannya. Ia mengharapkan supaya sejumlah mata uang Asia tetap menguat terhadap the . Dengan adanya penguatan mata uang di zona Asia diharapkan dapat memberi sentimen positif terhadap rupiah.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi bulan Juli 2017 sebesar 0,22 persen. Data tersebut lebih rendah dari bulan Juli 2016 sebesar 0,69 persen dan bulan Juli 2015 sebesar 0,93 persen. Sedangkan inflasi tahunan Juli 2017 tercatat lebih tinggi daripada inflasi Juli 2016 yang berada di angka 3,21 persen Year on Year (YoY), namun lebih rendah dari tingkat inflasi Juli 2015 sebesar 7,26 persen YoY.

Loading...