Terdiri Dari Berbagai Merek, Harga Minyak Goreng 1 Liter Mulai Rp 14 Ribuan

Harga Minyak Goreng

goreng menjadi salah satu komoditas yang eceran tertinggi-nya (HET) diatur oleh pemerintah. Beberapa waktu lalu Kementerian (Kemendag) telah membuat kesepakatan dengan distributor dan ritel modern untuk menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan sederhana di angka Rp 11.000 per 1 liter. Namun kenyataan di lapangan hingga hari ini harga minyak goreng seringkali lebih tinggi dari HET yang telah ditetapkan.

Misalnya saja untuk minyak goreng curah yang rata-rata dijual seharga Rp 12 ribu per liter. Kemudian di tingkat mini market seperti Indomaret dan Alfamart harga minyak goreng 1 liter disediakan dalam berbagai pilihan . Mulai dari merk Bimoli kemasan pouch 1L yang dijual dengan harga Rp 14.300, Sania Rp 14.600, Tropical Rp 15.700, merk Filma Rp 14.600, Sedaap Rp 15.000, Sunco Rp 15.000, Bimoli Spesial Rp 15.500, hingga Tropical kemasan botol 1 liter seharga Rp 16.800.

Di sisi lain, Gabungan Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan dukungannya terhadap penetapan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan sederhana. “Saya kira HET itu bagus ada tolak ukur harga sebenarnya berapa,” ucap Sahat Sinaga Direktur Eksekutif GIMNI, seperti dilansir Kontan.

Sahat mengungkapkan bahwa sebelum diberlakukannya HET untuk minyak goreng, bisa mengendalikan harga jual semaunya. Bahkan di tradisional kabarnya harga bisa naik lebih dari 30%. Berdasarkan pemantauan harga bersama dengan Kemendag, pedagang dianggap mengambil keuntungan yang cukup besar. “Kita ini tidak ada aturannya untuk pedagang,” ungkap Sahat.

Selain mengatur harga eceran minyak goreng, pihak GIMNI menyarankan pemerintah untuk membuat perpindahan barang hanya dibatasi dengan kenaikan sebesar 3% saja. Dengan adanya tersebut Sahat berpendapat bila harga berbagai kebutuhan pokok bisa ditekan.

Penerapan HET untuk 3 komoditas, yakni minyak goreng kemasan sederhana, gula, dan daging sapi beku kabarnya hanya berlaku hingga September. Selain itu menurut Sahat pihak Kemendag masih belum memberikan keputusan apakah pemerintah akan memperpanjang perjanjian tersebut atau tidak.

Loading...