Terbebani Data Ekonomi China, Rupiah Berakhir Drop

RupiahMata uang Garuda bergerak melemah seiring dengan pergerakan mayoritas kurs Asia - metrotvnews.com

JAKARTA – gagal memanfaatkan pelemahan yang dialami untuk bergerak naik pada Senin (14/1) sore, karena terbebani data perdagangan yang lebih lemah dari perkiraan. Menurut paparan Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda terpantau terdepresiasi 77 poin atau 0,55% menuju level Rp14.125 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.052 per dolar AS, menguat 24 poin atau 0,17% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.076 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,52% menghampiri won Korea Selatan.

Penurunan yang dialami kurs Asia salah satunya terpengaruh data ekspor dan impor China yang harus turun, menyoroti dampak perang perdagangan dan perlambatan ekonomi. Ekspor Negeri Panda dalam dolar AS terpantau turun 4,4% pada bulan Desember, sedangkan impor turun 7,6% pada periode yang sama, atau terburuk sejak 2016.

“Data perdagangan Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan telah membebani ekuitas China dan sejumlah mata uang terkait. Sentimen masuk lebih dalam pada rilis data perdagangan China bulan Desember, yang meleset dari sasaran,” tutur kepala perdagangan Asia-Pasifik di OANDA, Stephen Innes, dilansir Bloomberg. “Tetapi, dampak masih ringan di mata uang karena pelaku mulai berhati-hati dengan likuiditas yang menurun.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya terpantau bergerak lebih rendah terhadap rekan-rekan utama pada awal pekan, di tengah ekspektasi investor perihal kenaikan suku bunga yang tidak akan terjadi pada tahun ini. Mata uang Paman Sam melemah 0,117 poin atau 0,12% menuju level 95,553 pada pukul 12.38 WIB, setelah sebelumnya berakhir menguat 0,131 poin atau 0,14%.

Seperti diberitakan Reuters, setelah perkasa sepanjang tahun 2018, dengan kenaikan 4,3% karena The Fed mengatrol suku bunga sebanyak empat kali, dukungan terhadap greenback perlahan sirna. Pelaku pasar berpikir bahwa kekhawatiran perlambatan pertumbuhan dan global serta inflasi AS yang rendah akan membuat The Fed ragu untuk menaikkan biaya pinjaman di negara tersebut.

Data pada hari Jumat (11/1) menunjukkan bahwa indeks konsumen AS pada bulan Desember 2018 turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. Sebelumnya, Gubernur The Fed, Jerome Powell, juga menegaskan bahwa bank sentral memiliki kemampuan untuk bersabar tentang kebijakan moneter mengingat inflasi yang tetap stabil.

Loading...