Tensi Perang Dagang Masih Memanas, Rupiah Hari Ini Diprediksi Terkoreksi

Rupiah - infonawacita.comRupiah - infonawacita.com

Jakarta hari ini, Rabu (19/9) terpantau melemah 55 poin atau 0,37 persen ke level Rp 14.905 per , berdasarkan data dari Yahoo Finance. Sebelumnya, Garuda berakhir terapresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke level Rp 14.855 per USD.

Sementara itu, indeks dolar yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar naik 0,15 persen menjadi 94,6444 terhadap sekeranjang mata uang utama. Dolar dilaporkan menguat di tengah panasnya isu dagang antara Amerika Serikat dengan .

Belum lama ini, Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan penerapan impor terhadap produk asal China senilai 10 persen atau setara dengan USD 200 miliar. Peraturan impor yang baru ini akan mulai diberlakukan pada pekan depan dan disebut-sebut bakal membuat tensi perang perdagangan di dunia semakin tinggi.

Tak ingin kalah dengan AS, China pun membalas mengenakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap produk-produk asal Amerika Serikat yang setara dengan USD 60 miliar. Peraturan tarif impor barang-barang AS ini akan mulai diberlakukan di China tanggal 24 September 2018 mendatang.

Rupiah sendiri berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau, tak terlepas dari intervensi yang dilakukan oleh pihak Bank Indonesia (BI). Walaupun kemarin rupiah sempat melemah karena dipicu oleh aksi profit taking, rupiah berhasil mengakhiri perdagangan dengan penguatan di spot. “Untungnya BI memonitor para spekulan dan langsung masuk untuk menjaga rupiah agar tidak melemah ke level Rp 15.000,” kata analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto, seperti dilansir Kontan.

Meski demikian, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menambahkan bahwa rupiah saat ini perlu waspada terhadap sentimen perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China. Terlebih karena Presiden AS Donald Trump akan mulai memberlakukan tarif impor 10 persen pada produk China senilai USD 200 miliar mulai 24 September 2018 depan.

Loading...