Akhir Pekan, Rupiah Berbalik Drop Digerus Tensi Geopolitik

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – harus terjungkal ke teritori merah pada Jumat (19/6) sore, ketika ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea, Himalaya, serta China dengan mitra, menggerus daya tarik aset berisiko. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup melemah 22 poin atau 0,16% ke level Rp14.100 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.242 per dolar AS, terdepresiasi 56 poin atau 0,39% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.186 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang mampu mengangkangi greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,24% dialami baht Thailand.

“Pemangkasan suku bunga Bank Indonesia akan memberikan sentimen negatif bagi nasional, karena penurunan suku bunga tidak selaras dengan penurunan suku bunga kredit, yang kurang menarik bagi dunia usaha maupun rumah tangga,” papar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Hal itu tidak akan memberikan dorongan bagi pasar untuk mengambil pinjaman, sehingga mengakibatkan roda perekonomian kembali stagnan.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sempat menuju minggu terbaik dalam sebulan pada hari Jumat, karena kebangkitan dalam kasus coronavirus mengaburkan kepercayaan pemulihan ekonomi yang cepat dan mendorong mencari tempat yang aman untuk berlindung, namun kembali terjungkal. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,074 poin atau 0,08% ke level 97,347 pada pukul 12.55 WIB.

Seperti dicuplik Reuters, ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea, di Himalaya, dan antara China dan mitra dagangnya, telah melemahkan mood dan keseimbangan aset berisiko sehingga minim gerakan. Presiden AS, Donald Trump, pada Kamis (18/6) kemarin memperbarui ancamannya untuk memutuskan hubungan dengan China, sehari setelah pembicaraan tingkat tinggi pertama di Hawaii.

Juga dalam fokus untuk pasar adalah peningkatan kasus di banyak negara bagian AS selama minggu ini, bersama dengan meningkatnya pasien rawat inap, mencerminkan tren nasional yang meresahkan karena harian naik setelah lebih dari sebulan menurun. Lebih dari 150 kasus baru juga telah terdeteksi di Beijing sejak pekan lalu, membuat investor khawatir akan adanya lagi pembatasan perjalanan.

Loading...