Tensi Dagang Kembali Memanas, Rupiah Ditutup Melemah Tipis

Mata Uang Rupiah - berita.baca.co.idMata Uang Rupiah - berita.baca.co.id

Rupiah praktis tidak mampu bergerak ke area hijau pada Selasa (30/10) sore, ketika indeks seiring dengan kembali meningkatnya kekhawatiran akan tensi perdagangan antara Paman Sam dan Negeri Panda. Menurut data Index pukul 15.53 WIB, mata uang Garuda menyudahi dengan melemah tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp15.224 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.237 per dolar AS, terdepresiasi 19 poin atau 0,12% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.218 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,27% dialami yen Jepang, disusul rupee India yang turun 0,19%.

Dari , indeks dolar AS terus bergerak naik terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa ini, karena meningkatnya tensi perdagangan dan kekhawatiran perlambatan , sehingga membuat selera terhadap aset berisiko menurun. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,068 poin atau 0,07% ke level 96,647 pada pukul 11.04 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, investor saat ini cenderung menghindari aset berisiko dan memilih membeli dolar AS setelah Bloomberg melaporkan bahwa Washington tengah mempersiapkan untuk mengumumkan tarif pada semua impor asal China yang tersisa pada awal Desember mendatang. Hal itu bakal dilakukan jika diskusi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada bulan depan gagal mencapai kesepakatan dagang.

“Dolar AS memperoleh keuntungan dari status aset haven yang dibawanya, setelah harga saham melorot cukup tajam seiring kekhawatiran perang perdagangan yang meningkat,” jelas kepala strategi mata uang di NAB, Ray Attrill. “Di sisi lain, yen Jepang tampaknya tidak mendapatkan status safe haven-nya, mungkin karena investor lokal telah menjadi pembeli ekuitas asing sepanjang bulan ini.”

Saham AS berbalik melemah pada hari Senin (29/10) kemarin, dipicu penurunan saham perusahaan teknologi. Investor khawatir bahwa pendapatan perusahaan dapat mencapai puncaknya pada kuartal ini karena biaya pinjaman meningkat, dengan Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, diikuti oleh dua kemungkinan kenaikan pada tahun depan.

Loading...