Selasa Sore, Rupiah Tetap Merah Saat Kurs Asia Bangkit

Rupiah - www.savemoneychanger.comRupiah - www.savemoneychanger.com

JAKARTA – tetap gagal bergerak ke zona hijau pada transaksi Selasa (6/8) sore ketika mayoritas mulai bangkit di tengah konflik antara AS dan China yang kian meruncing. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.53 WIB, Garuda terpantau melemah 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.278 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.344 per dolar AS, terdepresiasi 113 poin atau 0,79% dari perdagangan sebelumnya di level Rp4.231 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia berbalik menguat terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,58% dialami dolar Taiwan.

Dari global, indeks dolar AS terlihat berusaha mengembalikan tenaganya pada hari Selasa, di tengah konflik perdagangan antara AS dan China yang kian memanas. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,006 poin atau 0,01% ke level 97,528 pada pukul 15.42 WIB, setelah pagi tadi dibuka di teritori merah.

Seperti diberitakan Reuters, yuan China sempat melemah tajam hingga 1,4% dalam beberapa hari terakhir, menyusul komentar mengejutkan Presiden AS, Donald Trump, yang akan mengenakan baru terhadap asal Negeri Panda senilai 300 miliar dolar AS. Selain yuan, mayoritas mata uang Asia juga terkena dampaknya, bahkan juga menyentuh dolar AS.

Namun, yuan China perlahan bangkit menyusul pernyataan People’s Bank of China (PBOC) yang menjelaskan bahwa pihaknya memiliki kendali yang cukup besar terhadap nilai tukar yuan. PBOC pada Senin kemarin menuturkan bahwa mereka akan terus mengambil tindakan yang perlu dan ditargetkan terhadap perilaku umpan balik yang mungkin terjadi di pasar valuta asing.

Pada hari ini, Bank Sentral China mengatakan bahwa mereka menjual uang kertas berdenominasi yuan di Hong Kong, sebuah langkah yang dianggap membatasi aksi short selling mata uang tersebut. Langkah ini juga menetapkan tingkat referensi harian untuk perdagangan di China yang sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan pasar, meskipun masih pada level paling lemah sejak Mei 2008.

“Pemulihan dalam yuan dipicu oleh perbaikan yang telah meredakan kekhawatiran tentang devaluasi mata uang kompetitif,” tutur kepala analis valas di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “China tidak benar-benar mencoba untuk secara dramatis melemahkan mata uangnya. Namun, tidak ada yang terselesaikan dalam perang perdagangan.”

Loading...