Tensi Dagang AS-China Kembali Reda, Rupiah Berakhir Melemah 0,24%

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Meredanya ketegangan -Cina yang mendukung nilai tukar indeks dolar , otomatis menutup peluang rupiah untuk melakukan gerak positif pada perdagangan awal pekan (21/5) ini. Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda harus mengakhiri dengan pelemahan sebesar 34 poin atau 0,24% ke level Rp14.190 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 98 poin atau 0,70% di posisi Rp14.156 per dolar AS pada akhir pekan (18/5) kemarin. Tren negatif mata uang Garuda berlanjut dengan dibuka melemah 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.175 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari area merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.176 per dolar AS, anjlok 69 poin atau 0,48% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.107 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tertekan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,73% menghampiri won Korea Selatan.

“Ada tiga sentimen yang menekan rupiah atas dolar AS saat ini, yang pertama adalah utang jatuh tempo dari pemerintah tenor jangka pendek pada bulan Juni,” terang Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip . “Lalu, yield obligasi AS 10 tahun yang bertahan di level tertinggi, dan partai politik yang menjanjikan pemotongan di luar dugaan memenangkan pemilu Italia.”

Dari global, indeks dolar AS kembali mengungguli sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, setelah Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan perang dagang AS- ‘ditahan’, meningkatkan sentimen risiko di tengah harapan untuk mengurangi ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Mata uang Paman Sam menguat 0,243 poin atau 0,26% ke level 93,880 pada pukul 11.13 WIB.

“Meredanya ketegangan perdagangan AS-Cina kemungkinan akan mendukung aset berisiko seperti ekuitas dan menjadi pertanda baik bagi dolar AS terhadap aset safe haven, termasuk yen Jepang,” ucap kepala perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes. “Saya pikir, pasar ekuitas akan berada di tempat yang lebih baik hari ini.”

Loading...