Ketegangan China-Australia, Produsen Baja Keluhkan Harga Bijih Besi

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull & Presiden China Xi Jinping (sumber: dw.com)Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull & Presiden China Xi Jinping (sumber: dw.com)

BEIJING – kemungkinan akan meningkatkan upaya untuk mengurangi permintaan baja ketika kelompok semakin gelisah tentang bijih besi yang tinggi di tengah perselisihan dengan pemasok terbesar mereka, . Meski demikian, Beijing kemungkinan besar akan sulit mencari sumber alternatif untuk komoditas tersebut, karena selama ini mengimpor sebanyak 60 persen dari Negeri Kanguru.

“Saya tidak berpikir harga bijih besi yang tinggi merupakan faktor dalam sengketa perdagangan antara kedua , tetapi itu mungkin tidak membantu,” kata kepala ekonom di manajer investasi AMP Capital, Shane Oliver, dilansir South China Morning Post. “Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengatasinya dalam jangka pendek selain mundur dari untuk menentukan harga.”

Ketegangan antara kedua negara meningkat ketika Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China mengatakan telah ‘menangguhkan tanpa batas’ dialog ekonomi tingkat tingginya dengan Australia. Itu terjadi setelah lebih dari setahun hubungan tegang yang dimulai saat Canberra menyerukan penyelidikan independen terhadap virus corona, yang mendorong serangkaian tindakan perdagangan dari Beijing.

Australia dan Brasil secara kolektif mengekspor lebih dari 80 persen pasokan bijih besi yang diangkut melalui laut di dunia, menurut analis senior di perusahaan komoditas CRU, Erik Hedborg. Negeri Panda diketahui mengimpor 60 persen bijih besinya dari Australia, dan mengonsumsi lebih banyak bijih besi daripada negara lain, karena mereka sejauh ini merupakan produsen baja terbesar di dunia.

Sektor baja yang didominasi China, yang diwakili oleh China Iron and Steel Association (CISA), telah membunyikan alarm tentang lonjakan harga, mendesak pemerintah pusat untuk membantu ‘malfungsi’ pasar dan meningkatkan kebijakan di pasar berjangka. CISA pada Desember 2020 kemarin menuntut penjelasan dari BHP (perusahaan penambangan Inggris-Australia) dan Rio Tinto asal Brasil tentang lonjakan biaya bijih besi.

Ilustrasi: pertambangan bijih besi (sumber: globaltimes.cn)

Ilustrasi: pertambangan bijih besi (sumber: globaltimes.cn)

“Masalah dengan harga bijih besi yang tinggi adalah uang meninggalkan negara-negara penghasil baja dan berakhir dengan produsen bijih besi dan pemerintah negara-negara yang memproduksi bijih besi,” kata Hedborg. “Dalam jangka panjang, satu masalah dengan harga bijih besi yang tinggi adalah potensi kehancuran permintaan jika harga barang yang mengandung baja menjadi terlalu tinggi.”

Harga bijih besi mencapai rekor 193 AS per ton pada 27 April 2021, naik 18 persen selama sebulan terakhir, sedangkan harga domestik kontrak berjangka baja tulangan yang banyak digunakan dalam konstruksi mencapai level tertinggi baru 179 AS per ton pada hari yang sama, menurut Gavekal Dragonomics dalam sebuah catatan. Harga bijih besi yang tinggi didorong oleh permintaan baja di China, yang telah mengalami ledakan konstruksi pasca-virus corona, dan ekspor yang lebih kecil dari Brasil.

Terlepas dari ketidaknyamanan China dengan harga bijih besi dan ketergantungan mereka pada Australia, sejumlah analis yakin, kecil kemungkinan kedua negara akan memberlakukan tindakan hukuman yang melibatkan komoditas tersebut. Sebaliknya, Beijing lebih cenderung meningkatkan intervensi untuk mengurangi permintaan baja.

Risiko ekonomi yang terkait dengan harga komoditas yang tinggi sedang dibahas di tingkat tertinggi, termasuk oleh Komisi Stabilitas dan Pembangunan Keuangan, yang diketuai oleh Liu He, penasihat ekonomi tertinggi untuk Presiden China, Xi Jinping. Pada April kemarin, komisi tersebut menyerukan untuk ‘menjaga stabilitas dasar harga dan memberikan perhatian khusus pada tren harga komoditas’, sebuah pernyataan yang tidak biasa dari badan yang biasanya berfokus pada regulasi keuangan.

Shiro Armstrong, seorang ekonom dan profesor di Sekolah Kebijakan Publik Crawford di Universitas Nasional Australia, mengatakan bahwa itu akan menjadi ‘bunuh diri ekonomi’ jika kedua negara mulai menjatuhkan sanksi pada bijih besi, mengingat pentingnya keduanya. Menurutnya, sanksi perdagangan China terhadap Australia akan merusak reputasi mereka sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan, dan Australia tidak ingin melakukan hal yang sama.

Ilustrasi: industri pengolahan logam

Ilustrasi: industri pengolahan logam

Pada Desember lalu, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China telah mengumumkan pengurangan baja mentah. Namun, baja mentah China justru mencapai 271 juta ton pada kuartal pertama 2021, meningkat 37 juta ton atau 15,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data S&P Global Ratings pada pekan lalu.

Beijing telah meminta Tangshan, kota penghasil baja terbesar di China di yang terletak di Provinsi Hebei, untuk memangkas kapasitas pembuatan baja dari Maret hingga akhir tahun. S&P memperkirakan hal ini akan menyebabkan hilangnya produksi sebesar 30 juta hingga 40 juta ton, atau 3 hingga 4 persen dari produksi baja mentah nasional tahunan. “Namun, pabrik baja lain mungkin termotivasi untuk meningkatkan produksi karena margin yang tinggi saat ini dan permintaan yang baik,” kata S&P.

Analis mengharapkan lebih banyak tindakan dari Beijing untuk memangkas permintaan baja, tetapi ada juga risiko mereka dapat memaksa beberapa produsen keluar dari bisnis, mengakibatkan hilangnya pekerjaan dan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Hedborg mengatakan, China dapat mempercepat transisi dari produksi baja berbasis bijih besi ke produksi baja berbasis scrap untuk mengurangi ketergantungan pada impor. “Namun, ini proses yang lama dan akan memakan waktu bertahun-tahun,” katanya.

Loading...