Kamis Sore, Rupiah Berbalik Hijau di Tengah Tensi AS-China

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Setelah cenderung bergerak negatif, rupiah ternyata mampu membalikkan posisi ke area hijau pada Kamis (21/11) sore, ketika hubungan dan China semakin memanas sekaligus membebani mata uang di Asia. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.092 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.112 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.097 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,57% dialami won Korea Selatan.

Dari global, dilansir CNBC, aset safe haven yen Jepang diburu investor pada hari Kamis, setelah sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan perdagangan AS-China tidak mungkin terjadi tahun ini. Yuan pun langsung jatuh ke level terendah tiga minggu di tengah kekhawatiran kegagalan untuk mencapai kesepakatan sehingga dapat membahayakan ekonomi Negeri Panda.

Ketegangan antara Beijing dan Washington semakin membuat investor gelisah setelah sebuah sumber mengatakan bahwa Presiden AS, , diperkirakan akan menandatangani dua undang-undang yang dimaksudkan untuk mendukung demonstran anti-pemerintah di Hong Kong. Pengesahan undang-undang AS yang mendukung demonstran bisa memicu kemarahan Beijing dan berpotensi merusak upaya untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

“Gesekan antara AS dan China mulai menyebar dari perdagangan ke pertanyaan tentang hak asasi manusia Tiongkok,” ujar manajer umum solusi bisnis pendapatan tetap di SBI Securities di Tokyo, Tsutomu Soma. “Ini adalah kesempatan sempurna untuk membukukan beberapa keuntungan dan melonggarkan beberapa perdagangan berisiko, yang mendukung yen dan obligasi pemerintah.”

Washington dan Beijing telah memberlakukan tarif pada barang satu sama lain dalam perselisihan atas praktik perdagangan Negeri Tirai Bambu yang menurut pemerintah AS tidak adil. Perang tarif lantas memperlambat perdagangan global, meningkatkan risiko resesi untuk beberapa negara, dan mengguncang pasar keuangan. AS dijadwalkan akan mengenakan tarif tambahan untuk barang-barang China senilai 156 miliar dolar AS pada 15 Desember 2019.

Loading...