Tensi AS-China Tekan Pasar, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (20/7) sore - investor.id

JAKARTA – Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, rupiah harus menerima nasib terbenam di area merah pada Senin (20/7) sore, ketika ketegangan antara dan terus menekan sentimen global. Menurut laporan Index pada pukul 14.55 WIB, Garuda melemah 82 poin atau 0,56% ke level Rp14.785 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.832 per dolar AS, terdepresiasi 52 poin atau 0,35% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.780 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif, dengan pelemahan antara lain dialami rupiah, baht Thailand, dan yen Jepang, sedangkan kenaikan menghampiri dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan peso Filipina.

“Ruang untuk melanjutkan penurunan bagi rupiah masih terbuka. Nilai tukar rupiah terseret kekhawatiran akan ketegangan antara AS dan China. Hubungan kedua negara ini sering tidak akur karena berbagai alasan,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo, Ariston Tjendra, dikutip dari Bisnis. “Dengan situasi kekhawatiran ini, pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia yang menurunkan tingkat imbal hasil di Indonesia menjadi tidak menarik untuk hot money.”

Dari pasar global, dilansir Reuters, yuan diperdagangkan lebih rendah di tengah hari setelah berayun dalam kisaran ketat di sekitar titik kritis 7 per dolar AS pada Senin pagi, karena ketegangan AS-China yang sedang berlangsung menekan sentimen, walau investor belum mengukurnya dengan tindakan substantif. Pedagang mengatakan, ketegangan antara dua ekonomi terbesar memang meningkat, tetapi dampak terhadap mata uang tetap terbatas, karena tidak ada pihak yang menyebutkan mereka akan melanggar kesepakatan perdagangan fase 1.

Beberapa investor menuturkan, sebagian besar fokus mereka adalah pada KTT Uni Eropa, tempat para pemimpin menawar satu rencana untuk menghidupkan kembali ekonomi yang sudah diguncang oleh pandemi coronavirus. Keputusan bisa memengaruhi euro dan pergerakan mata uang lainnya. Secara terpisah, yuan sedikit bereaksi terhadap berita itu, dengan China mempertahankan suku bunga acuannya stabil untuk yang ketiga kalinya, sesuai dengan ekspektasi pasar, di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia mulai pulih dari guncangan pandemi corona.

Loading...