Tenaga Belum Pulih, Rupiah Kembali Drop di Akhir Rabu

Rupiah - katadata.co.idRupiah - katadata.co.id

JAKARTA – Meski mulai stabil, namun rupiah belum memiliki tenaga yang cukup untuk bergerak naik ke zona hijau pada perdagangan Rabu (15/5) sore ketika fokus tertuju pada data Eropa dan AS. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 29 poin atau 0,20% ke level Rp14.463 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.448 per dolar AS, terdepresiasi tipis 4 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.444 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, pergerakan mata uang Asia mulai stabil, dengan kenaikan tertinggi terhadap greenback dialami rupee India sebesar 0,31%.

Dari pasar , indeks dolar AS sedikit bergerak melemah pada hari Rabu, ketika investor menantikan data ekonomi terbaru dari AS dan Eropa untuk memperoleh petunjuk apakah kekhawatiran mengenai pertumbuhan sudah berakhir atau belum. Mata uang Paman Sam terpantau turun 0,027 poin atau 0,03% ke level 97,499 pada pukul 12.40 WIB.

Diberitakan Reuters, reaksi pasar valuta asing cukup minim menanggapi data output industri China dan penjualan ritel selama April, yang menggarisbawahi perlunya Beijing menggelar lebih banyak langkah-langkah stimulus untuk mendukung ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Di sisi lain, dolar AS cukup stabil setelah AS, Donald Trump, menuturkan bahwa pembicaraan dagang dengan China belum selesai.

“Investor akan terus memonitor pasangan mata uang utama,” kata chief operating officer di Rakuten Securities di Sydney, Nick Twidale. “Dolar Aussie dan yuan (China) tetap di bawah tekanan di dekat posisi terendah baru-baru ini. akan mencari lebih banyak konfirmasi pendinginan dalam perang perdagangan sebelum masuk ke posisi buy baru.”

Saat ini, fokus utama pasar tertuju pada ekonomi zona Eropa dan domestik bruto (PDB) Jerman serta penjualan ritel dan industri AS bulan April yang akan dirilis hari ini waktu setempat. PDB di 19 negara yang ada di Uni Eropa naik 0,4% kuartal-ke-kuartal dalam tiga bulan pertama 2019, menurut pembacaan awal yang dirilis akhir bulan lalu.

“Mengingat data China yang lemah, pasar tidak akan dapat menghindari reaksi jika data ekonomi AS juga lemah,” kata ahli strategi pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Ayako Sera. “Pertanyaannya adalah apakah kita akan melihat hasil yang lemah terjadi berturut-turut, atau jika data China lemah, sementara angka AS tetap kuat.”

Loading...