Tembus Rp 14.710/USD, Rupiah Masih Tertekan Keperkasaan Dolar AS

Rupiah - www.jayabaya.ac.idRupiah - www.jayabaya.ac.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 30 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp 14.710 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (31/8). Sebelumnya, Kamis (30/8), nilai tukar Garuda ditutup terdepresiasi 35 poin atau 0,24 persen ke level Rp 14.680 per USD.

Indeks dolar AS yang memantau pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama dilaporkan rebound. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,13 persen menjadi 94,7305 lantaran para tengah mencerna berbagai terbaru.

Pada Kamis (30/8), Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa pendapatan pribadi AS naik 0,3 persen pada Juli menjadi 54,8 miliar dolar AS, sesuai dengan prediksi pasar. Pada Juli 2018, disposable personal income AS atau penghasilan pribadi setelah dikurangi pajak langsung atau yang juga disebut penghasilan pribadi yang siap dibelanjakan dilaporkan naik 52,5 miliar dolar AS atau 0,3 persen, dan belanja (pengeluaran) konsumsi pribadi pun naik 49,3 miliar dolar AS atau 0,4 persen.

Kemudian Departemen AS melaporkan, pada pekan yang berakhir 25 Agustus, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai angka 213.000, naik 3.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya 210.000. Rata-rata pergerakan 4 pekan mencapai 212.250, turun 1.500 dari rata-rata yang tak direvisi minggu sebelumnya 213.750. Perolehan tersebut termasuk level terendah sejak 13 Desember 1969 yang kala itu berada di 210.750.

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih mengungkapkan, data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II yang meningkat sampai 4,2 persen telah mengakibatkan rupiah melemah. Pelemahan ini juga terjadi pada sebagian mata uang . Di samping itu, masih minimnya data ekonomi terbaru di Indonesia juga membuat rupiah belum mampu beranjak dari zona merah. “Saat ini hanya ada intervensi dari BI yang bisa diandalkan rupiah,” kata Lana, seperti dilansir Kontan.

Menurut Lana, BI masih harus melakukan intervensi secara masif, mengingat pekan depan sentimen terkait kenaikan suku bunga acuan AS akan semakin kencang. Terlebih karena AS kabarnya berencana kembali mengumumkan impor baru untuk China dalam waktu dekat.

Loading...