Tekanan Terhadap Rupiah Didominasi Faktor Eksternal

Berbagai faktor eksternal memberikan tekanan berat pada . Beberapa di antaranya yaitu perlambatan ekonomi Cina, spekulasi devaluasi mata uang yuan Cina, dan kebijakan yang tidak sesuai ekspektasi pasar. Namun, faktor yang paling utama adalah jelang kenaikan tingkat suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat.

Nilai tukar rupiah pada awal dibuka menguat tipis 0,09% atau 13 poin ke level Rp 13.940 per dolar AS di pasar spot Jumat (11/12). Sedangkan ditutup di posisi 4.393,52, turun 1,62% dari hari sebelumnya. Di pasar spot juga valuasi rupiah merosot 0,28% ke level Rp 13.993 per dolar dibanding hari sebelumnya. Nilai ini tergerus sebanyak 1,14% dalam sepekan terakhir.

Hal ini berbeda dengan Bank , posisi rupiah sedikit terangkat 0,12% di level Rp 12.937 per dollar AS meski dalam sepekan terakhir tetap tergerus 0,75%.

Sementara itu, Bloomberg Dollar Index mencatat Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) 39 poin atau 0,28% ke Rp 13.992 per USD. Angka tersebut dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 13.953 per USD.

Pergerakan rupiah seiring dengan melemahnya mayoritas mata uang regional Asia. Sepanjang Jumat(11/12), rupiah sempat menembus level terlemah Rp 14.035/US$ dan terkuat 13.921/US$.

Untuk posisi rupiah berdasarkan penutupan kurs referensi () BI pada level Rp 13.937/USD. Posisi ini naik tipis 17 pon dari penutupan sebelumnya di label Rp 13.945/USD. Sementara itu, tercatat tren dan dolar Amerika menguat atas yen dan yuan- yang dampaknya dipastikan bisa berlanjut ke bursa Asia. [alf]

Loading...