Tekanan Global Belum Usai, Rupiah Dibuka Melemah 8 Poin

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

Tekanan masih menjadi momok yang menakutkan bagi pergerakan pada awal Selasa (4/9) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka transaksi dengan melemah 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.823 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup anjlok 105 poin atau 0,71% di posisi Rp14.815 per AS pada Senin (3/9) kemarin, atau level terendah sejak 20 tahun.

“Penyebab fundamental pelemahan rupiah adalah defisit akun lancar. Berapa pun besaran defisit akun lancar, rupiah tertekan,” kata ekonom senior Indef, Faisal Basri, dilansir Bisnis. “Hanya saja, tekanan sedikit mereda jika arus asing (capital inflows) melebihi defisit akun lancar seperti yang terjadi pada 2014, 2016, dan 2017. Karena, arus masuk lebih banyak berupa ‘uang panas’ alias portfolio.”

Ia menambahkan, pergerakan rupiah juga sangat rentan terhadap tekanan eksternal. Sedikit saja terjadi gejolak keuangan global, maka mata uang domestik akan tertekan. “Sedikit saja terjadi gejolak keuangan global, rupiah langsung lunglai, yang kerap dijadikan kambing hitam oleh para pembuat kebijakan ,” sambung Faisal.

Hampir senada, analis Asia Trade Point Futures, Andri Hardianto, mengatakan bahwa saat ini rupiah mendapatkan tekanan dari banyak sisi. Pertama, kekhawatiran global terhadap keberlanjutan perang dagang. Kedua, kondisi krisis ekonomi yang dihadapi sesama berkembang, yakni Turki dan Argentina. Selain itu, komoditas yang berpotensi mengalami tren penurunan.

“Sebetulnya, kinerja ekspor sepanjang semester I lalu cukup bagus, tetapi penerimaan DHE (devisa hasil ekspor) tidak maksimal sehingga belum bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan,” ujar Andri. “Rupiah bisa menguat kalau pemerintah benar-benar dapat menggenjot DHE untuk menambal defisit neraca transaksi berjalan yang makin lebar.”

Sekadar informasi, dalam tiga bulan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah anjlok lebih dari 6%, bahkan ketika Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar mata uang dan obligasi untuk membantu menangkal aksi jual. Usaha menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sejak Mei lalu juga belum berdampak positif bagi rupiah.

Loading...