Tekan Produksi Tembakau, Tarif Cukai Rokok 2017 Dinaikkan

Tembakau - www.produknaturalnusantara.com

Jakarta – Sejak awal Januari lalu telah mengumumkan kebijakan baru untuk tembakau lewat Peraturan No. 147/PMK.010/2016. Dengan adanya peraturan baru tersebut, kenaikan cukai tertinggi sebesar 13,46% untuk hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) dan terendah sebesar 0% untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata tertimbang 10,54%.

Kemudian jual eceran (HJE) juga naik rata-rata sebesar 12,26%. “Hal utama yang menjadi pertimbangan kenaikan adalah pengendalian produksi, tenaga kerja, rokok ilegal, dan penerimaan cukai. Selain aspek , pemerintah juga perlu memperhatikan aspek lain dari rokok, yaitu tenaga kerja, peredaran rokok ilegal, petani tembakau, dan penerimaan negara,” ungkap Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Terkait aspek kesehatan, Kemenkeu melalui Bea Cukai selama 10 tahun belakangan ini telah berhasil mengurangi jumlah pabrik rokok dari 4.669 pabrik menjadi 754 pabrik pada 2016 lalu. “Tak hanya itu, pertumbuhan produksi hasil tembakau pun telah dikendalikan, sehingga selama 10 tahun terakhir menunjukkan tren negatif yaitu sebesar -0,28%, di mana pada saat bersamaan jumlah penduduk tumbuh sebesar 1,4%,” paparnya.

Per tanggal 1 Januari 2017, harga jual eceran rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) paling rendah adalah Rp 655 dari sebelumnya Rp 590, kemudian sigaret putih mesin (SPM) Rp 585, sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret putih tangan (SPT) Rp 400, serta sigaret kretek tangan filter (SKTF) dan sigaret putih tangan filter (SPTF) Rp 655.

Sedangkan harga jua eceran terendah untuk sigaret kretek mesin (SKM) hasil tembakau yang diimpor adalah Rp 1.120, sigaret putih mesin (SPM) hasil Rp 1.030, sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret putih tangan (SPT) hasil tembakau adalah Rp 1.215, serta sigaret kretek tangan filter (SKTF) dan sigaret putih tangan filter (SPTF) memiliki harga jual eceran terendah Rp 1.120.

Loading...