Tekan Beijing, Kapal Perang Eropa Kompak Berpatroli di Laut China Selatan

Ilustrasi: kapal militer di Laut China Selatan (sumber: scmp.com)Ilustrasi: kapal militer di Laut China Selatan (sumber: scmp.com)

TOKYO – Negara-negara besar Eropa, termasuk , , dan , ramai-ramai mengirim kapal perang ke Indo-Pasifik di tengah meningkatnya kecurigaan terhadap China atas tindakan keras politiknya di dan penanganan wabah virus corona. Selain itu, pengiriman armada ini sekaligus meningkatkan penolakan atas klaim ‘nine-dash line’ Beijing atas Laut China Selatan.

Seperti diwartakan Nikkei , pada Rabu (3/3) kemarin, Kedutaan Besar Prancis di Tokyo memposting artikel yang menjelaskan aktivitas fregat di perairan . Kedutaan menulis, fregat atau kapal perang Prairial saat ini dikerahkan di -Pasifik, dengan mereka berpartisipasi dalam sistem untuk melawan pengelakan sanksi Dewan Keamanan PBB oleh Korea Utara. “Ini adalah salah satu elemen dari pekerjaan kami untuk kepentingan keamanan di kawasan Indo-Pasifik,” tulis mereka.

Dalam posting sebelumnya, kedutaan mencatat bahwa Prairial telah melakukan persinggahan teknis di pelabuhan angkatan laut Jepang, Sasebo, di Prefektur Nagasaki, dan telah tinggal selama empat hari. Itu mengingatkan pada kedatangan kapal serbu amfibi andalan Inggris, HMS Albion, tahun 2018 lalu ke Yokosuka, Jepang, sekaligus rumah bagi Armada ke-7 milik AS.

Latihan bersama bulan lalu yang melibatkan Prancis, AS, dan Jepang menggarisbawahi tren tersebut. Kapal pengisian ulang Jepang, Hamana, mengisi bahan bakar Prairial di dekat Kyushu, di barat daya Jepang, dalam operasi pertama semacam ini sejak akuisisi dan perjanjian layanan silang antara kedua negara berlaku pada 2019 lalu.

Emeraude, Kapal selam nuklir Prancis (sumber: navalnews.com)
Emeraude, Kapal selam nuklir Prancis (sumber: navalnews.com)

Pada bulan Desember kemarin, kapal selam nuklir Prancis, Emeraude, melakukan latihan anti-kapal selam dengan kapal perusak berpeluru kendali AS, USS John McCain, dan kapal induk Jepang, Hyuga, di sekitaran Laut Filipina. Ini menandai pertama kalinya Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dan Angkatan Laut Prancis berpartisipasi bersama dalam latihan kapal selam.

Jerman, sementara itu, akan mengirim fregat ke Asia mulai Agustus mendatang, demikian menurut pejabat senior di Berlin. Itu akan menjadi kapal perang Jerman pertama yang menyeberangi Laut China Selatan sejak 2002. “Namun, kapal tersebut tidak akan lewat dalam jarak 12 mil laut dari pulau-pulau yang diperebutkan di kawasan,” tambah beberapa pejabat di Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Jerman.

Akan tetapi, pengumuman Jerman mungkin secara tidak sengaja mengungkap kurangnya pengalaman Berlin di Laut China Selatan. Collin Koh, seorang peneliti di Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura, menuliskan tweet bahwa akan lebih baik bagi Jerman untuk tidak mengklaim bahwa mereka akan tetap berada di luar jangkauan 12 mil laut.

“Saya memahami banyak angkatan laut, regional dan ekstra-regional, akan berusaha untuk tetap di luar (12 mil laut) dari fitur yang diperebutkan karena melakukan hal itu dapat menjadi provokatif yang tidak perlu bagi penggugat,” tulis Koh. “Namun, beberapa hal lebih baik tidak dikatakan secara terbuka agar tidak dianggap sebagai dukungan untuk klaim. Pernyataan semacam itu tanpa disadari ‘melegitimasi klaim yang salah’ untuk fitur Laut China Selatan tertentu.”

Ilustrasi: hubungan diplomatik China-Uni Eropa (sumber: internationalaffairs.org)
Ilustrasi: hubungan diplomatik China-Uni Eropa (sumber: internationalaffairs.org)

Langkah Prancis dan Jerman mengikuti Inggris, yang semakin melihat ke Indo-Pasifik di era pasca-Brexit. Selain itu, hubungan antara London dan Beijing memburuk karena pemberlakuan undang-undang keamanan baru tahun lalu di Hong Kong, bekas koloni Inggris, yang menurut Negeri Ratu Elizabeth merongrong otonomi wilayah tersebut.

Kapal induk Angkatan Laut Kerajaan, HMS Queen Elizabeth, akan dikerahkan ke wilayah tersebut setelah musim semi, disertai dengan kelompok penyerang, termasuk kapal selam dan kapal perusak, dalam rangka unjuk kekuatan yang ditujukan ke China. Kapal induk tersebut dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam latihan dengan pesawat tempur siluman F-35B milik AS dan Jepang.

Jepang melihat peningkatan keterlibatan Eropa sebagai peluang emas untuk memajukan visinya tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Menteri Luar Negeri, Toshimitsu Motegi, menyambut peningkatan minat Eropa di kawasan itu ketika ia berpidato di depan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa pada akhir Januari kemarin, menyerukan kerja sama di berbagai bidang, termasuk keamanan maritim.

Klaim teritorial ‘nine-dash line’ Beijing mencakup hampir semua perairan yang kaya energi di Laut China Selatan. Negeri Tirai Bambu sendiri telah mendirikan pos-pos militer di pulau-pulau buatan. Washington mengatakan, tidak ada dasar yang koheren untuk klaim ‘nine-dash line’ China, dan Angkatan Laut AS secara teratur melakukan operasi ‘kebebasan navigasi’, lewat di dekat beberapa pulau ini, sekaligus menegaskan kebebasan akses ke perairan internasional.

Loading...