Tawarkan Transaksi Lebih Efisien, Asia Tenggara Siap Adopsi Blockchain

Blockchain - norbertbiedrzycki.plBlockchain - norbertbiedrzycki.pl

Blockchain dan cryptocurrency, seperti Bitcoin, diyakini akan menjadi ubiquity platform untuk di masa depan. Meski masih banyak bank sentral yang menyikapi kehadiran teknologi buku besar digital ini dengan sangat hati-hati, termasuk bank di Asia Tenggara, namun adopsi dari sistem yang mendasarinya tampaknya tidak dapat dielakkan.

Berdasarkan survei yang dilakukan FT Confidential Research, seperti dikutip Nikkei, bank sentral di kawasan ASEAN memang memiliki sikap hati-hati terhadap kemunculan crypto, namun adopsi teknologi yang mendasarinya, yaitu Blockchain, nampaknya bakal terealisasi. Meski investasi spekulatif dalam cryptocurrencies diklaim tidak menimbulkan risiko sistemik, namun pengawasan peraturan yang lebih besar mungkin terjadi.

Untuk sektor keuangan, Blockchain memang menjanjikan transaksi yang lebih cepat, lebih hemat , sekaligus lebih aman. Pengalihan dana antar-rekening antar- dapat dilakukan dalam hitungan detik, lebih cepat dari durasi hari dengan menggunakan sistem saat ini. Bank sentral pun tertarik untuk memanfaatkan Blockchain, teknologi dasar di balik cryptocurrencies, yang juga dikenal sebagai Distributed Ledger Technology (DLT). Ini adalah bentuk buku besar digital terdesentralisasi yang berfungsi tanpa pencatatan sentral.

Namun, satu masalah yang bisa muncul adalah bahwa bank sentral tidak memiliki pengaruh terhadap penciptaan dan peredaran crypto-crypto tersebut. Selain itu, perdagangan crypto-kardiak tidak mengakui undang-undang domestik yang mengatur transaksi keuangan, terutama mengenai pernyataan tentang dan juga pencucian uang.

Bank sentral dan lembaga keuangan lainnya pun khawatir bahwa teknologi ini dapat ‘menyingkirkan’ peran perantara mereka. Akibatnya, bank sentral Asia Tenggara hingga kini belum mengakui crypto sebagai instrumen resmi. Meski demikian, Filipina tetap memperbolehkan warga negaranya melakukan transaksi dengan cryptocurrencies, namun tetap dengan izin khusus.

Survei FT Confidential Research terhadap 5.000 responden di lima negara ASEAN yang terbesar (tidak termasuk Singapura) menunjukkan bahwa hanya 2,5 persen konsumen perkotaan yang menggunakan crypto dalam tiga bulan sampai akhir September 2017. Indonesia sedikit di depan dalam penggunaan mata uang ini, dengan 3,3 persen responden, diikuti oleh Filipina dengan 2,9 persen.

Bank sentral sendiri telah berusaha menghindari peraturan yang berlebihan. Beberapa bahkan sudah menyediakan sandbox peraturan untuk mempromosikan penelitian dan pengembangan Blockchain di sektor keuangan. Pada akhir 2016, Bank OCBC Singapura menjadi bank pertama di Asia Tenggara yang melakukan transfer uang lintas batas antar-cabang di Malaysia dan Singapura menggunakan platform Blockchain yang disesuaikan.

Upaya individu semacam itu penting, namun bank sentral harus memimpin dalam menciptakan Blockchain universal untuk memastikan i interoperability. Ini akan menjadi pertanda baik bagi gagasan bank sentral yang menerbitkan mata uang nasional dalam bentuk token digital. Otoritas Moneter Singapura telah bereksperimen dengan tiga prototipe untuk melakukan tugas seperti mengeluarkan mata uang digital. Sementara, Bank Indonesia juga melakukan uji coba dengan Blockchain, meski pejabat yang berwenang belum mengatakan apa sebenarnya tujuan mereka.

Loading...