Tawarkan Beragam Keuntungan, Jumlah Kartu GPN BCA yang Terdistribusi Masih Minim

Kartu GPN BCA - www.jawapos.com

Sejak beberapa waktu lalu sederet bank di seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, hingga BCA mulai melakukan sosialisasi sekaligus distribusi ATM/debit berlogo Gerbang Nasional (GPN). BCA GPN sendiri adalah fasilitas bagi pemilik rekening Tahapan, Tahapan Gold, dan Giro Individu yang dapat digunakan di seluruh mesin ATM dan bank manapun.

Seperti halnya Paspor BCA biasa, kartu GPN BCA tersedia dalam 3 pilihan kartu, yakni Paspor BCA GPN Blue yang dikenai biaya administrasi bulanan Rp 14 ribu, Gold biaya adminnya Rp 16 ribu per bulan, dan yang paling mahal adalah Platinum dengan biaya Rp 19 ribu tiap bulan. Dengan adanya Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) di Indonesia, seluruh gerbang pembayaran perbankan nasional akan disatukan, sehingga para tak perlu lagi pusing mencari mesin Electronic Data Capture (EDC) yang sesuai dengan bank yang ia gunakan.

Keuntungan menggunakan kartu GPN BCA cukup banyak, yakni berupa kenyamanan dalam debit di ribuan gerai seluruh Indonesia yang berlogo debit BCA maupun GPN. Selain itu nasabah bisa melakukan pengambilan uang tunai di seluruh mesin ATM BCA, Prima, maupun yang berlogo GPN. Nasabah pun kini tak lagi dipungut biaya saat melakukan di EDC bank apa saja. “Melalui Kartu Paspor BCA GPN, sistem pembayaran bisa semakin efisien karena terjadi sharing infrastruktur antarbank di Indonesia. Hal ini akan mendorong kemandirian sistem pembayaran nasional,” kata Direktur BCA Santoso Liem.

Paspor BCA GPN dapat diperoleh dengan membuka rekening Tahapan, Tahapan Gold, dan Giro Perorangan, atau dengan menukar kartu paspor lama ke BCA terdekat. Kartu Paspor BCA GPN sudah tersedia di Cabang BCA sejak 17 April 2018 lalu, untuk area Jabodetabek dan dilakukan secara bertahap.

Hingga akhir tahun 2018 ini BCA menargetkan distribusi kartu GPN BCA mencapai 2 juta kartu. Namun sampai awal bulan 2018, jumlah distribusi kartu debit/ATM GPN BCA baru mencapai 160 ribu kartu. Menurut Santoso, kendala yang dihadapi karena rendahnya tingkat kunjungan nasabah ke Kantor Cabang Pembantu (KCP) maupun Kantor Cabang Utama (KCU).

“Yang perlu dilihat dan dipahami adalah bahwa kondisi masyarakat kalau kita lihat contohlah di BCA, ternyata yang sering datang di cabang kita data itu menunjukkan cuma 3%, 97% merasa tidak perlu datang ke cabang karena semua transaksinya bisa dilakukan elektronik. Karena kesibukan nasabah kita nggak mungkin memaksa mereka. Inilah yang menjadi kesulitan utama karena ini kan penggantian kartu harus one by one,” tandas Santoso, seperti dilansir Jawapos.

Loading...