Tarif Tambahan Trump Tekan Dolar, Rupiah Malah Drop di Akhir Pekan

rupiah - www.cnbc.comrupiah - www.cnbc.com

tidak mampu memanfaatkan peluang untuk bergerak setelah indeks dolar AS terbebani ancaman tarif tambahan Donald Trump kepada China. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda harus menyudahi transaksi akhir pekan (6/4) ini dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.778 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melemah tipis 1 poin atau 0,01% di posisi Rp13.767 per dolar AS pada akhir dagang Kamis (5/4) kemarin. Pagi tadi, tren negatif mata uang NKRI berlanjut dengan dibuka terdepresiasi 13 poin atau 0,09% ke level Rp13.780 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki otot untuk keluar dari teritori merah hingga tutup dagang.

Dari , greenback sebenarnya kembali terjerumus ke area negatif pada Jumat, setelah Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan senilai 100 miliar dolar AS terhadap China, dalam eskalasi ketegangan baru antara terbesar di dunia. Mata uang Paman Sam melorot 0,063 poin atau 0,07% ke level 90,937 pada pukul 10.52 WIB, meski sempat naik tipis 0,020 poin atau 0,02% ke posisi 90,480 pada pukul 11.36 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, pernyataan-pernyataan yang semakin agresif dari Washington dan Beijing telah menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang, yang dapat melukai pertumbuhan ekonomi global. Dalam sebuah pernyataan hari Kamis, Trump mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan Departemen Perdagangan AS untuk mempertimbangkan tarif impor tambahan atas sejumlah produk Negeri Panda senilai 100 miliar dolar AS.

Dalam beberapa jam kemudian, China menjawab dengan mengatakan bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah komprehensif baru untuk menjaga kepentingan negara jika AS tetap pada perilaku proteksionis mereka. Sentimen ini pun langsung mengatrol nilai tukar yen Jepang, yang berlaku sebagai mata uang safe haven di tengah ketidakpastian gejolak politik dan ekonomi.

“Kondisi dolar AS mungkin menjadi tanda bahwa posisi pasar untuk jangka pendek lebih mengarah pada yen Jepang,” tutur kepala perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes. “Perasaan saya adalah semua orang memiliki yen, dan masalahnya adalah mereka memerlukan beberapa alur cerita baru.”

Loading...