Tantangan Perekonomian 2016 Datang dari Dalam dan Luar Negeri, Mendag Tetap Optimis

Jakarta – Tantangan perekonomian di tahun , diperkirakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), tidak lebih ringan dari tahun lalu. Dijelaskan oleh Kepala Ekonom LPS Doddy Arifianto, risiko yang menjadi tantangan perekonomian berasal dari internal maupun eksternal.

Risiko dari luar negeri diantaranya terkait dengan penurunan harga komoditas. Harga minyak yang telah melemah dalam 14 bulan terakhir, merosot hingga di bawah USD 30 per barel dari sebelumnya sekitar USD 110 per barel.

“Ada beberapa teori yang mendasarinya, namun kami lihat dalam waktu dekat ini belum akan (naik) di atas US$ 50 per barel,” ungkap Doddy, kemarin (31/1).

Indonesia yang perekonomiannya sangat bergantung pada komoditas, jelas ikut limbung akibat anjloknya harga minyak mentah ini, sebab akan berpengaruh pada seluruh komoditas. Tak hanya itu, Perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina hingga 3% dalam 2 tahun terakhir juga memberi dampak kurang bagus bagi ekonomi , mengingat Cina merupakan mitra dagang besar Indonesia.

Sedangkan tantangan di ranah domestik datang dari penurunan penerimaan pemerintah (Shortfall) yang berpengaruh pada belanja negara, setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Sektor keuangan juga masih berpotensi terancam jika aliran dana keluar (crowding out and leakage) menjadi semakin deras.

Oleh karena itu, Doddy berpendapat bahwa pengambil kebijakan moneter dan fiskal harus mampu mengantisipasi risiko perekonomian yang akan dihadapi di tahun 2016.

Meyakini pemerintah masih bisa mengantisipasi tantangan ekonomi di tahun 2016 ini, Menteri Thomas Lembong menyatakan bahwa kestabilan perekonomian mulai tampak, dimulai dengan stabilnya nilai tukar Rupiah dan modal di awal tahun.

“Di tiga minggu awal 2016, di Amerika dan Cina . Tapi, Rupiah stabil-stabil saja. Pasar kita juga relatif kondusif. Artinya, kepercayaan investor terhadap iklim di Indonesia tetap terjaga,” papar Lembong, belum lama ini.

Loading...