Tanpa Tenaga, Rupiah Kembali Tembus Level Rp14.000

Rupiah MelemahRupiah Melemah - www.inews.id

JAKARTA – tidak memiliki tenaga untuk melawan keperkasaan pada Senin (11/2) sore ketika tensi perang dagang antara dan China menimbulkan kekhawatiran yang baru. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.11 WIB, Garuda 79 poin atau 0,57% ke level Rp14.034 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.995 per dolar AS, terdepresiasi tipis 3 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.992 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,64% menghampiri rupiah.

Dari global, indeks dolar AS tetap berada di dekat level tertinggi enam minggu terhadap sekeranjang mata uang pada hari Senin, di tengah kekhawatiran baru atas ketegangan perdagangan AS-China dan risiko pertumbuhan global yang akhirnya mendorong investor memburu aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,065 poin atau 0,07% ke level 96,702 pada pukul 12.25 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, para negosiator AS pada minggu ini akan mendesak China untuk mereformasi cara memperlakukan properti intelektual perusahaan Paman Sam, guna mengakhiri kesepakatan perdagangan yang dapat mencegah kenaikan pada impor Negeri Panda. Sebelumnya, Presiden AS, , mengatakan dia tidak berencana untuk bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, sebelum batas waktu 1 Maret yang ditetapkan untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

“Pembicaraan AS-China adalah fokus utama untuk minggu ini dan kekuatan dolar AS merupakan indikasi sentimen pasar yang cukup berhati-hati,” kata chief operating officer di Rakuten Securities Australia, Nick Twidale. “Sementara, dolar Aussie dan euro berada pada level rentan, dan penurunan lebih lanjut dalam sentimen risiko dapat menyebabkan pelemahan lebih lanjut pada kedua mata uang.”

Kekuatan dolar AS pulih meskipun Federal Reserve mengambil sikap dovish pada pertemuan kebijakan pada bulan Januari kemarin. Untuk saat ini, investor cenderung beralih ke greenback karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang tajam. Di sisi lain, euro berada di bawah tekanan karena hasil utang pemerintah inti Eropa menyentuh level terendah dalam lebih dari dua tahun.

Loading...