Tanpa Halangan, Rupiah Menghijau di Akhir Kamis

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – terus melaju di zona hijau pada Kamis (24/1) sore, ketika indeks AS cenderung loyo akibat tertekan kekhawatiran global, government shutdown AS, serta sengketa perdagangan. Menurut paparan Index pada pukul 15.54 WIB, Garuda menguat 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.170 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.141 per dolar AS, menguat 47 poin atau 0,33% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.188 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,28% menghampiri rupiah, disusul renminbi China yang naik 0,09%.

Dari pasar global, indeks dolar AS memang cenderung bergerak lebih rendah pada hari Kamis, tertahan oleh kekhawatiran pertumbuhan global, government shutdown AS, serta sengketa perdagangan antara AS dan China yang belum selesai. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,006 poin atau 0,01% menuju level 96,117 pada pukul 12.25 WIB.

Seperti dilansir Reuters, penutupan sebagian pemerintah AS, sekarang telah memasuki hari ke-34, telah membebani sentimen investor. Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Republik, A. Mitch McConnell, mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengadakan pemungutan suara pada hari ini mengenai proposal Partai Demokrat yang akan mendanai pemerintah selama tiga minggu.

Kekhawatiran atas pertumbuhan global juga menghambat selera investor terhadap aset berisiko. Pada Senin (21/1), Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan global 2019 dan 2020, mengutip perlambatan yang lebih besar dari yang diperkirakan di China dan zona Eropa, sembari mengatakan bahwa kegagalan untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan dapat semakin mengganggu kestabilan global.

“Ketegangan perdagangan adalah faktor paling dominan untuk sentimen investor saat ini dan akan mendorong aliran pasar,” tutur chief operating officer di Rakuten Securities, Nick Twidale. “Selera investor terhadap aset berisiko hanya akan meningkat setelah kekhawatiran atas penutupan sebagian pemerintah AS dan ketegangan perdagangan memudar.”

Loading...