Tambal Defisit Anggaran, Negara Arab Sepakat Naikkan Harga Minyak

Harga Minyak - ivoox.idHarga Minyak - ivoox.id

KUWAIT – -negara anggota Organization of Arab Petroleum Exporting Countries (OAPEC) baru saja mengadakan pertemuan ke-101 di Kuwait pada Minggu (23/12) kemarin. Kecuali Qatar, -negara Teluk penghasil minyak bersikeras untuk menaikkan harga minyak guna menambal defisit anggaran, sekaligus menentang kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang menyerukan sebaliknya.

“Ada alasan mengapa anggota OPEC yang berasal dari negara-negara Arab menentang kebijakan Presiden Donald Trump untuk menurunkan harga minyak,” jelas mantan duta besar Turki untuk Qatar, Mithat Rende, dilansir TRT World. “Pasalnya, akibat kebijakan Trump, dan UEA menghadapi defisit anggaran. Sejak tahun 2014 dan seterusnya, harga minyak turun dari 110 AS menjadi 35 AS per barel.”

Rende menambahkan, Arab Saudi telah membuat perhitungan anggaran berdasarkan harga 70-73 per barel. Ketika negara kehilangan sebagian besar pendapatan, Riyadh menunda banyak infrastruktur. “Ekonomi negara itu sangat bergantung pada minyak bumi. minyak merupakan 80 persen dari total pendapatan Arab Saudi,” sambung Rende.

“UEA mengalami nasib serupa karena harga minyak yang rendah, meskipun ekonominya sedikit beragam dan didorong oleh , pariwisata, dan pendapatan minyak,” lanjut Rende. “Pengucilan Qatar oleh negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi juga merugikan ekonomi UEA, karena pengusaha asal Qatar menunda besar di negara itu.”

Presiden Donald Trump sempat meminta Arab Saudi, pemimpin de-facto OPEC, untuk meningkatkan produksi minyak guna mengompensasi ekspor minyak mentah yang lebih rendah dari Iran dan untuk memastikan tidak ada lonjakan harga sebelum pemilihan paruh waktu. Para ahli berpendapat, AS percaya bahwa Iran diuntungkan dari harga minyak yang tinggi di tengah sanksi yang diberlakukan terhadap negara tersebut di masa lalu.

Pada 7 Desember kemarin, OPEC dan sekutu yang dipimpin Rusia sepakat untuk memotong produksi minyak lebih dari yang diperkirakan . Menurut perjanjian tersebut, OPEC akan memangkas produksi minyak sebesar 0,8 juta barel per hari, sedangkan sekutu non-OPEC akan memotong pasokan sebesar 0,4 juta barel per hari.

“Tetapi, meski OPEC menurunkan produksi, harga minyak tiba-tiba anjlok dari 86 dolar AS menjadi 56 dolar AS per barel. Itu adalah penurunan besar, yang tentu saja tidak menguntungkan Arab Saudi,” imbuh Rende. “Koalisi pimpinan Saudi dalam perang Yaman sejak 2015 membebani Riyadh, selain populasi pemuda sebesar 30 juta yang sebagian atau seluruhnya bergantung pada kebijakan kesejahteraan negara.”

Arab Saudi telah meningkatkan produksi minyak ke rekor tertinggi pada November 2018, memompa 11,1 juta barel menjadi 11,3 juta barel per hari. Rende ragu sejauh mana Visi Saudi 2030 sekarang dapat diwujudkan. Proyek infrastruktur besar bernama Neom, yang membutuhkan 500 miliar dolar AS untuk penyelesaiannya, kekurangan dana karena jatuhnya harga minyak.

Loading...