Tiru AS, Taliban Persenjatai Drone Lawan Afghanistan

Taliban persenjatai drone lawan Afghanistan - www.dronebook.org

KABUL – Sejak tahun 2016, Taliban telah menggunakan yang membawa kamera untuk merekam film propaganda. Kini, mereka memakai bermuatan bom untuk berperang melawan musuh-musuh, membuat pasukan Afghanistan menghadapi senjata psikologis yang tersembunyi dan mematikan, yang kemungkinan akan tumbuh menjadi ancaman yang efektif di masa depan.

Dilansir dari TRT World, sementara jumlah serangan mereka sedikit, taktik baru ini membuktikan kemampuan beradaptasi dan ketahanan kelompok yang bisa dibilang selamat dari invasi AS ke Afghanistan. Yang lebih memprihatinkan, hal itu mencerminkan niat strategis untuk terus membangun kapasitas pertempuran meskipun terlibat dalam negosiasi perdamaian dengan pemerintah Afghanistan.

“Sangat jelas bahwa Taliban akan meniru perang pesawat tak berawak AS,” tutur Emran Firoz, pakar drone, kepada TRT World. “Karena apa yang telah kita lihat selama beberapa tahun, tidak hanya di Afghanistan, tetapi juga di wilayah lain tempat AS sudah mengobarkan perang, adalah bahwa kelompok-kelompok militan mencoba meniru peperangan semacam ini.”

Firoz melanjutkan bahwa ini bukan yang sama. Kita tidak dapat membandingkan drone komersial dengan drone American Reaper. Menurutnya, kelompok mencoba untuk pamer dan mengatakan bahwa mereka juga bisa melakukan ini. “Mereka dapat menggunakan drone, mereka memiliki pasukan khusus dan punya perlengkapan lengkap dan terlihat seperti pasukan khusus AS,” sambung Firoz.

Menampilkan adaptasi yang luar biasa, bom yang dijatuhkan oleh drone komersial ini terus meningkat dengan kecepatan yang stabil. Mereka menjalankan keseluruhan dari peluru mortir yang dijatuhkan, yang meledak saat terkena dampak secara default, amunisi improvisasi yang terbuat dari botol minuman soda yang berisi bahan peledak plastik dengan pelatuk di tutup botol, hingga cangkang granat yang dimodifikasi untuk ditembakkan dari peluncur granat.

Tanpa sirip stabilizer, amunisi kemungkinan besar memang akan jatuh di udara, tidak dijamin akan berdampak pada hidungnya yang menyebabkan ledakan. Untuk mengatasi ini, ‘insinyur’ Taliban mulai memasang shuttlecock bulu tangkis ke bagian belakang bahan peledak. Tidak terisolasi di satu wilayah, serangan drone Taliban terlihat beraksi di berbagai wilayah Afghanistan, khususnya di distrik Paktia di Mirzaka dan Zurmat, Baraki Barak, Balkh, Faryab, Charkh, Pul-i Alam, serta Kunduz utara.

Tidak ada yang benar-benar tahu, tetapi mengingat setidaknya satu model yang ditangkap dan suara baling-baling yang dilaporkan oleh penyintas serangan, tampaknya Taliban menggunakan drone quadcopter yang tersedia secara komersial dan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Sebuah video yang dibagikan pada Januari 2020 lalu memamerkan DJI Matrice 210 yang dipersenjatai, dilengkapi kamera Zenmuse Z30 yang kuat dan mekanisme menjatuhkan amunisi.

Dalam video tersebut, pembicara mengklaim drone itu benar-benar disita oleh Taliban di Provinsi Helmand, Afghanistan, setelah diduga digunakan oleh pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya. Ini aneh, mengingat kurangnya kelompok anti-Taliban yang menggunakan drone komersial atau drone bersenjata untuk memulai. Perlu dicatat bahwa Afghanistan menguji drone pengintai di provinsi yang sama pada tahun 2016, tetapi itu adalah Boeing Insitu ScanEagle yang jauh lebih besar.

Drone sebenarnya relatif mudah didapat di pasar. Namun, ada spekulasi bahwa pesawat tak berawak Taliban datang melalui Pakistan. Indikator yang lebih jelas tentang asal-usul mereka dapat ditemukan dalam kata-kata Ahmad Zia Saraj, kepala Direktorat Keamanan Nasional (NDS). Pada 23 November 2020, dia berjanji melarang impor drone komersial ke Afghanistan untuk mencegah serangan semacam itu.

Terlepas dari ini, drone masih relatif mudah didapat. Menurut Firoz, barang seperti ini ada banyak di pasar gelap, bahkan di Afghanistan, baik drone bersenjata maupun komersial. Drone semacam itu sudah tersedia di sebagian besar , dengan harga mulai 700 dolar AS untuk drone bekas hingga hampir 6.500 dolar AS untuk drone baru yang canggih. Meskipun tidak murah untuk apa pun, drone tersebut masih terjangkau untuk kelompok seperti Taliban.

Taliban sendiri dilaporkan menghasilkan 1,6 miliar dolar AS pada tahun fiskal terakhir mereka yang berakhir pada Maret 2020, menurut Mullah Yaqoob, putra almarhum pemimpin spiritual Taliban, Mullah Mohammad Omar, sedangkan pemerintah Afghanistan mendapatkan 5,55 miliar dolar AS pada periode yang sama. Dengan anggaran ini, mereka lebih dari mampu untuk membangun angkatan udara mereka sendiri.

Lalu, kenapa Taliban baru mulai mempersenjatai drone, meskipun mereka sudah memakai drone komersial untuk memfilmkan serangan bunuh diri atau cuplikan propaganda? Menurut analisis Firoz, ini masih tentang ‘Amerikanisasi perang’, karena kelompok militan mencoba menggunakan senjata serupa, gaya perang, meniru peperangan yang dianggap maju. “Karena begitulah cara Anda berperang di abad ke-21,” catat Firoz.

“Beberapa hari yang lalu, seorang anggota Taliban yang saya kenal mengklaim bahwa mereka hanya menargetkan Afghanistan, tidak ada warga sipil,” tambah Firoz. “Itu adalah narasi yang sama yang digunakan oleh semua orang, bahkan AS, yang bisa jadi merupakan kebohongan. Itu sama dengan Taliban.”

Satu penjelasan yang mungkin adalah pertumbuhan anggota Taliban yang lebih muda yang paham teknologi, atau mungkin inspirasi mereka oleh penggunaan drone komersial bersenjata ISIS di Suriah dan Irak pada tahun 2017. Meski saat ini dampaknya tidak besar, jika mereka terus memperbaikinya atau meningkatkan penggunaannya, senjata-senjata itu menurut Firoz terbukti dapat menjadi teror.

Bagi Afghanistan, ancaman pesawat tak berawak itu nyata, dan penggunaan drone pengintai oleh Taliban telah mengalami peningkatan. Sulit untuk menembak jatuh karena ukurannya, dan secara taktis, mereka sering diluncurkan dalam kegelapan sehingga hampir mustahil untuk menangkapnya. Solusi seperti senapan anti-drone elektromagnetik sangat mahal, dan masih relatif baru.

Bahkan, upaya NDS untuk melarang impor sulit ditegakkan mengingat perbatasan Afghanistan yang keropos. Pada 2010, pemerintah Afghanistan melarang impor amonium nitrat, yang tidak cuma dapat digunakan sebagai pupuk, tetapi juga sebagai bahan peledak. Meskipun demikian, negara masih dapat menangkap sejumlah besar bahan kimia secara teratur.

Solusi alternatif dapat berupa investasi dalam pengacau elektronik, atau atap dan dinding yang diperkeras, untuk melindungi dari amunisi yang jatuh. Salah satu solusi menjanjikan yang telah menunjukkan beberapa keberhasilan adalah dengan melatih elang untuk menyerang drone, sebuah yang dipelopori oleh US Marine Corp dan tentara Prancis. Namun, sampai elang tiba untuk menyelamatkan hari, Afghanistan dihadapkan pada dilema yang tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Loading...