Tak Semua Kalangan di China Dukung Yuan menjadi Mata Uang Internasional

Shanghai – International Monetary Fund (IMF) akhirnya menetapkan Renminbi alias Yuan untuk masuk ke dalam golongan internasional bentukan IMF. Sebelumnya telah ada 4 lain yang menjadi anggota di keranjang SDR , yakni , Jepang, , serta .

Hal ini dirasa pantas, mengingat China telah tampil sebagai salah satu negara berkekuatan ekonomi terbesar di Asia. Tercatat lebih dari 1.000 Bank di 100 negara telah menggunakan Yuan untuk bertransaksi dengan China, dan angka ini naik 20% selama 2 tahun terakhir.

Keputusan IMF ini dipandang sebagian besar pihak bakal menguntungkan China, namun ternyata tak semua lapisan publik di China mendukung hal ini. Masyarakat China terbagi dalam 2 perspektif dalam memandang pengumuman IMF ini.

Golongan pertama melihat keputusan IMF ini sebagai tonggak utama dalam pembukaan ekonomi China, sedangkan golongan yang lain memandang IMF hanya melakukan tindakan simbolis tanpa membawa signifikansi yang nyata.
Media mainstream dan analis internasional mengatakan bahwa keputusan IMF ini bakal meningkatkan internasionalisasi yuan. “Sebuah momen bersejarah yang menimbulkan perdebatan di seluruh dunia,” kutip tabloid Times.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Andy Xie, analis ekonomi Morgan Stanley di Shanghai. Andy menyatakan kepada Business Times bahwa tindakan ini tak banyak berarti dalam realitas perekonomian China. “SDR hanya unit akuntansi. Tidak memiliki arti di dunia nyata” ungkapnya.

Kalangan masyarakat China pun turut berkomentar. “Apakah kita bisa benar-benar bebas menggunakan yuan di luar negeri? Sepertinya ada batas,” demikian yang dikutip dari harian The Paper.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena sebelumnya telah muncul peraturan yang membatasi warga China untuk mengkonversi yuan senilai maksimal USD 50,000 dalam setahun. Selain itu, China juga baru saja memperkenalkan aturan untuk membatasi penarikan ATM oleh warga China yang berada di luar negeri, yang artinya penggunaan Yuan di luar negeri sangat dibatasi.

Loading...