Tak Mampu Bertahan, Rupiah Kembali Dibuka Anjlok 15 Poin di Awal Perdagangan

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

– Kurs dibuka melemah sebesar 15 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp 13.868 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (7/6). Sebelumnya, Rabu (6/6), mata uang Garuda berakhir terapresiasi sebesar 27 poin atau 0,19 persen ke level Rp 13.853 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, dolar AS turun 0,22 persen menjadi 93,668 lantaran tertekan oleh reli euro pasca (ECB) menyatakan akan mengurangi stimulus moneternya tahun 2018 ini.

Seperti dilansir Reuters, Kepala ekonom ECB Peter Praet mengungkapkan jika bank sentral akan membahas apakah akan melonggarkan pembelian obligasi secara bertahap dalam pertemuan kebijakan pada tanggal 14 Juni 2018 mendatang. Euro terpantau menguat 0,5 persen terhadap dolar AS di akhir perdagangan, sekaligus mencatat kenaikan mingguan terbesar terhadap USD sejak pertengahan Februari lalu.

Di sisi lain, para saat ini masih mencerna sejumlah ekonomi Amerika Serikat terbaru. Pada Rabu (6/6), Departemen Perdagangan AS melaporkan defisit perdagangan barang dan jasa internasional AS menurun ke level 46,2 miliar dolar AS pada April dari angka yang direvisi sebesar 47,2 miliar dolar AS pada Maret 2018 lantaran ekspor meningkat dan impor menurun.

Rupiah sendiri kemarin berhasil rebound di akhir dagang lantaran ditunjang oleh sentimen dari eksternal. “Kalau eksternal kan karena dollar AS melemah, pelemahan ini justru membuat rupiah semakin menguat,” ujar Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut Lukman memaparkan jika untuk sementara ini masih belum ada sentimen lain yang dapat mendorong penguatan rupiah di pasar spot. Akan tetapi penguatan rupiah juga bisa jadi merupakan efek dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Seperti diketahui, belum lama ini BI telah menaikkan suku bunga dan menurut para analis langkah tersebut adalah keputusan yang benar. Pasalnya hal ini merupakan langkah antisipasi sebelum Federal Reserve mengambil keputusan terkait kenaikan suku bunga acuannya pada pekan depan. “Rupiah masih bisa menguat sebelum The Fed mengumumkan keputusan mereka,” kata Lukman.

Loading...