Tak Banyak Dibudidayakan, Harga Lobster Air Laut Capai Jutaan Rupiah per Kg

Harga, lobster, air, laut, per, kg, tawar, budidaya, komoditas, teknologi, nelayan, Indonesia, ekspor, lautan, Vietnam, pasaran, telur, internasional, bibit, capit, jenis, habitat, mikro, jual,Olahan lobster disajikan di atas piring

Hingga saat ini, lobster masih menjadi primadona untuk diperjualbelikan di . Hal itu dibuktikan dengan tingginya permintaan tersebut dari seluruh negara di dunia.

Berdasarkan jenisnya, ada banyak macam lobster yang umum dibudidayakan dan dikonsumsi masyarakat, mulai dari lobster bercapit dan tidak bercapit hingga lobster air tawar dan air . Untuk lobster air sendiri dibedakan dari jenis habitatnya yaitu mereka hidup di air , hal ini tentunya berbeda dengan lobster air tawar yang memang hidupnya bisa di air tawar.

Di , lobster air laut memiliki jual yang lebih mahal daripada lobster air tawar. Hal ini karena cara budidayanya yang berbeda dengan lobster air tawar serta kandungan gizi yang amat baik jika dibanding dengan lobster jenis lainnya. Namun, lobster air laut merupakan hasil kekayaan yang belum banyak tersentuh manusia. Meski bernilai jutaan , hampir tidak ada masyarakat Indonesia yang membudidayakan lobster air laut. Sebab, harga jual yang tinggi ternyata juga berbanding lurus dengan proses budidaya yang ekslusif bagi hewan bercapit ini.

Cuncun Setiawan, pemilik Bintaro Fish Centre (BFC) Mini Farm mengatakan, ia pribadi lebih memilih membudidayakan lobster air tawar ketimbang air laut. Berbagai pertimbangan mendasari pilihannya tersebut. “Budidaya lobster air laut itu membutuhkan saringan air hingga skala mikro. Karena lobster air laut itu sekali bertelur bisa 50 ribu hingga 100 ribu telur. Gedenya kayak ujung jarum. Kalau ada zooplankton, habis (telur lobster),” ungkap Cuncun kepada Kumparan.

Sehingga butuh biaya yang mahal untuk mempunyai teknologi saringan air skala mikro. Belum lagi masalah lahan yang harus tersedia dalam skala besar. Jumlah telur lobster air laut yang mencapai ratusan kali lipat dari telur lobster air tawar membuat pembudidaya harus memiliki media yang bisa menampung benih-benih tersebut.

Berbeda dengan lobster air tawar yang tidak selalu membutuhkan media besar seperti kolam semen. Lobster air tawar dapat dikembangbiakan di kolam tanah bahkan dalam aquarium. “Hanya saja kalau kolam tanah, butuh suplai air yang lebih besar daripada rembesannya. Pakai kolam terpal juga bisa. Lebih ekonomis,” lanjutnya.

Dengan proses budidaya yang cukup eksklusif, tak heran jika harga lobster air laut juga sangat tinggi, mencapai Rp1 jutaan per kg. Harga tersebut jauh lebih mahal dari lobster air tawar yang dijual seharga Rp175 ribu per kg. Dengan perhitungan itulah, Cuncun memprediksi budidaya lobster air laut belum marak di pasaran Indonesia.

Namun, Cuncun tak menampik bahwa di negara lain seperti Vietnam, budidaya lobster air laut sudah marak. Cuncun mengira, Vietnam sudah menemukan formula khusus untuk dapat membudidayakan lobster air laut dengan teknologi canggih. Hal inilah yang belum diketahui oleh banyak di Indonesia. “Mungkin itu alasan Bu KKP (Susi Pudjiastuti) tidak memperbolehkan benih lobster diekspor. Karena negara lain enak membudidayakan sudah gampang, jualnya mahal,” ujar Cuncun.

Menurutnya, ia lebih mendukung agar lobster air laut dibiarkan tumbuh dan berkembang biak di habitat aslinya yaitu lautan Indonesia. “Tapi kalaupun nantinya Indonesia bisa membudidayakan ya baik. Asal jangan pas udah mulai habis baru orang sadar untuk budidaya aja,” tutupnya.

Loading...