Tahun Ini Pasokan Nikel Diprediksi Terus Menurun

Pasokan nikel diprediksi akan mengalami penurunan pada tahun 2016 ini atau untuk pertama kalinya dalam rentang waktu enam tahun terakhir. Pertumbuhan produksi yang lambat sehingga tidak mampu menampung kuatnya permintaan, khususnya dari konstruksi dan , disebut sebagai faktor turunnya pasokan logam untuk bahan stainless steel tersebut.

Menurut laporan International Nickel Study Group, pada akhir April lalu, produksi nikel terpantau menurun 3 persen dari tahun sebelumnya menjadi 1,91 juta ton. Sementara, konsumsi logam tersebut justru naik 3 persen menjadi 1,96 juta ton. Untuk bulan April saja, pasokan nikel menunjukkan kekurangan sebesar 10.000 ton.

Pasar nikel sebenarnya melonjak pada semester pertama tahun 2014 ketika bijih dilarang, namun berangsur lesu karena penurunan produksi. yang hingga tahun 2013 menyumbang 30 persen produksi bijih nikel global telah beralih ke peleburan bijih dan mengekspor logam yang telah diproses.

Sebenarnya, diharapkan menjadi alternatif pemasok selain Indonesia. Namun, baru tersebut, Rodrigo Duterte, yang diresmikan akhir Juni, telah memerintahkan penutupan dua tambang nikel karena berkaitan dengan ekosistem lingkungan.

Dari sisi permintaan, China yang merupakan konsumen terbesar untuk logam telah memecahkan rekor pada bulan April karena meningkatnya produksi stainless steel. Tidak hanya untuk sektor perumahan, permintaan stainless steel juga ditujukan untuk baterai, pesawat, dan mobil.

Harga nikel global di London Metal Exchange sendiri berada di kisaran 10.000 AS per ton, atau naik 31 persen sejak Februari. Posisi net long perdagangan nikel adalah 50.100 lot, atau 2,8 kali lebih banyak dibandingkan awal tahun ini.

Loading...